FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

News

29 December 2005 09:35 AM

Pohon di Kaki Langit : jeram hutan liar

Source: JELAJAH Crew

Menjelang berlaga ke Kejuaraan Muara Enim, beberapa anggota PB FAJI dan rekan inisiator Pengda FAJI DKI Jaya menyempatkan silaturahmi dan berpamitan kepada Ketua Pengda FAJI DKI Bang Boim yang nama resminya Irwansyah Tanjung. Beliau yang juga menjabat Special Advisor to Minister of Forestry alias Staff Khusus Menteri Kehutanan, penggemar Tarung Drajat ini memang bertekad memajukan arung jeram yang kental nuansa petualangan dan dekat dengan alam.

Bang Boim saat ini juga punya binaan Yayasan Kaki Langit (Tel. 021 – 9393 010 email : yayasan_kakilangit@hotmail.com), yang selain gemar berarung jeram juga punya visi penghijauan untuk masa depan. Karenanya melalui arung jeram, beliau juga mengajak penggiatnya untuk ikut serta melestarikan lingkungan. ”Kalau hutan di TN Gunung Halimun terus dibiarkan merana, 5 (lima) tahun lagi mungkin Citarik juga tak layak lagi buat arung jeram”, kata Bang Boim. Menurunnya debit juga dikatakan oleh Amalia Yunita, Pemilik Operator Wisata Arung Jeram  Arus Liar yang beroperasi di Citarik, yang hadir dalam pertemuan itu.

Soal kerusakan hutan, pembalakan liar (illegal logging) di Indonesia yang melibatkan cukong - elit politik – politisi lokal - aparat pemda/keamanan - HPH - masyarakat lokal – pekerja pendatang – bahkan memakai Koperasi dan LSM, tak perlu lagi dikatakan datanya, dan beritanya juga tiap hari diberitakan di media. Yang diperlukan adalah aksi nyata menanam pohon, act locally, act personally, “mulai dari diri sendiri”, begitu kata da’i kita AA Gymm. Demikian juga Yayasan Kaki Langit, saat ini sedang melakukan penghijauan pesisir Jakarta di kawasan Hutan Lindung Muara Angke, yang terancam abrasi.

Pemerintah, menurut Bang Boim juga telah menyiapkan banyak bibit penghijauan buat siapa saja yang tergerak hatinya, bahkan kawasan hutan kritis yang bisa dikelola menjadi hutan. Beliau juga memberikan ilustrasi, betapa bernilainya penghijauan dari sisi lingkungan maupun komersial. Sekarang tanam pohon yang nilai bibitnya tidak seberapa, 20 tahun lagi menjadi hutan dengan nilai kayu yang tak terkira, seorang menanam pohon jati sebanyak 100 bibit jati saja, dikemudian hari investasi ini bisa bernilai ratusan juta rupiah.

Kelompok Pecinta Alam saat ini memang masih terkesan menjadi penikmat alam, belum terlihat gerakan masif para penggiat untuk menyelamatkan kelestarian alam kita, termasuk hutan. Bahkan kerusakan kawasan puncak Gunung Gede misalnya, sebagian karena kegiatan pendakian. FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia) yang juga memiliki misi dibidang kelestarian alam, terutama yang berkait dengan aliran sungai (namanya catchmen area sungai, luas juga sih cakupannya) sudah waktunya menaruh perhatian, dan melakukan aksi nyata, dengan melakukan gerakan masif penghijauan.

Penghijauan dapat saja dilakukan setiap ada gelaran kegiatan seperti Kejuaraan atau even lainnya, kalau saja yang datang 400 (empat) ratus atlet – panitia, dan masing-masing menanam 2 batang pohon saja, sudah lumayan. Seperti juga dilakukan oleh Ketua Umum PB FAJI, Mayjen TNI (Mar) Safzen Nurdin, dalam rangkaian acara pembukaan  Kejurnas Citarum 2005 lalu, tak kurang 100 (seratus) pohon ditanam beliau dan rombongan secara simbolik. Namun bahasa simbol ini sudah waktunya menjadi gerakan nyata, atau kita cuma jadi  penikmat jeram tanpa peduli masa depannya? Hijau bantaranku, mengalirlah sungaiku, melajulah perahuku ditengah alun riam - jeram dan hutan liar. (BdY)

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org