FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

News

17 November 2005 03:15 PM

Riyanni Djangkaru yang ditunggu : tidak semua laki-laki

Source: JELAJAH - dari berbagai sumber

Berita baik tak layak di tolak, berita buruk lebih baik jangan, itu kata peribahasa. Kabar diliputnya Kejurnas Citarum 2005 oleh JEJAK PETUALANGAN dari TV 7 dibawah arahan producer Dody Johanjaya - Mapala UI juga - dengan presenter atraktifnya Riyanni Djangkaru menjadi oase tersendiri bagi para pelomba….mimpi apa nih kawan… Riyanni Djangkaru, dara tercantik diseantero jagad alam terbuka Indonesia, kini menjadi ikon dunia petualangan sejak kiprahnya sebagai presenter dalam acara reality show ini dua tahun lalu.

Kemunculannya di dunia petualangan memang menjadi pemanis diantara para penggiatnya, yang biasanya dipenuhi wajah lusuh dan celana lapangan penuh daki, atau cewek-cewek tomboy bergaya lelaki, namun yang satu ini, tetap feminin bak sang dewi. Keberanian, kekuatan, semangat dan kenekadannya jangan ditanya, bahkan tidak semua laki-laki mampu menandingi apa yang diperbuatnya. Dibibirnya yang merekah ulat tanah saja mampu dilumatnya, tapi jangan ditanya soal melumat yang lainnya…

Hutan rimba belantara jeram jurang dan gunung es, sudah dilakoninya. Gunung Rinjani dengan tanjakan tanpa henti juga dilaluinya tanpa kesulitan yang berarti. Semangatnya membara, tak nyana kalau dia sebenarnya anak mama. Lahir di Bogor 31 Januari 1980, jelita ini seakan punya napas kuda, dua tahun dilalui dengan petualangan hampir tanpa jeda, bahkan consorsium penyakit tiphus, lever, malaria, radang paru-paru bahkan lutut robek yang menghajar tidak mematahkan nyali dan asanya.

Pengalaman pendakian di Papua – Pegunungan Sudirman- yang paling mengesankan baginya, dinding beku dua minggu memang membuat tulang sembilu. Tapi dia tak pernah ragu, walau 2-3 jam berjalan harus semalam lagi menunggu, agar badan mampu beradaptasi terhadap tekanan udara dataran tinggi. Berenang tiga kali seminggu, berlari setiap waktu, adalah upayanya agar fisiknya sehat dan fit setiap waktu. Walau jemari merah karena cat kuku, kulit halus bak beludru, semuanya tak pernah menghambatnya mendaki seribu puncak gunung dan bukit, menuruni seratus lembah dan jurang, mengarungi seribu riam dan jeram.

Walau kini dia tak lagi sering di laya kaca, karena kuliahnya telah lama tertunda, toh dia  tetap punya cita-cita, bikin film dokumenter petualangan yang punya makna. Karenanya Kejurnas Citarum 2005 dan Reuni para pemburu tua akan diabadikannya. Kamis 24 November di kala senja, Riyanni dan crew akan mencoba galaknya jeram Citarum - Rajamandala, mungkin anda yang dipilih jadi pemandunya, tapi tidak…. kali ini jatah saya…. (BdY)

(visit : http://jejakpetualang.tv7.co.id)

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org