FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

News

17 October 2014 06:40 AM

Kabar dari Foz Do Iguassu, Brazil (2)

Source: Amalia Yunita

Arena World Rafting Championship (2)

 

Untuk pecinta dan pemerhati olahraga arung jeram di Indonesia

 

Malam itu, 12 Oktober 2014, tuntas sudah hiruk pikuk dan ketegangan lomba untuk kelas U-19 dan U-23, istilah kategori untuk peserta Junior dan Youth. Di tanah kosong diantara deretan restaurante di kota kecil Iguacu, Closing Ceremony diadakan dalam tempat dan acara yang sederhana, namun murah meriah. Tak ada banyak basa basi, tak ada pertunjukkan khusus, setiap Tim yang dapat medali dipanggil kedepan dan naik keatas box, dikalungi medali, menaikkan 3 bendera pemenang dengan lagu kebangsaan sang juara, sambutan Presiden IRF lalu semua peserta sibuk berjingkrakan dengan lampu warna warni yang bersliweran dan sound system yang menggaungkan lagu – lagu hit.

 

Usai sudah ketegangan yang berlangsung selama 4 hari terakhir. Bagi kami Tim Juri dan Wasit, tim ‘Timing’ dan kurangnya júri dan wasit menjadi isu utama. Hanya 10 juri dan wasit yang datang di kejuaraan kali ini, biasanya sedikitnya kami punya 12 orang wasit dan júri. Panjangnya waktu pelaksanaan ditambah perjalanan yang akan memakan waktu lebih dari 18 hari membuat banyak júri yang absen. Timing menjadi masalah utama karena panitia menggunakan tim yang biasa bekerja dalam lomba slalom. Mereka merasa sangat profesional  dalam bidang itu sehingga sulit untuk diberi masukkan. Barusan saja lomba Sprint dimulai, mereça sudah kebingungan membuat scoring dan akhirnya mengakui harus menggunakan file xls yang dibuat Joni Kurniawan (many thanks Jon!). Kesulitan mulai timbul saat lomba H2H, tak ada tim mereça yang memantau tim mana yang masuk garis finish terlebih dahulu. Pertandingan H2H berlangsung sangat cepat dan taka da waktu jeda untuk berdiskusi lagi. Show must go on! Akhirnya pertandingan dihentikan selama 1 jam (45 menit lebih lama dari rencana awal yang hanya 15 menit) untuk memberi kesempatan tim Timing mengatur kembali hasil waktu lomba. Terbayang bagaimana peserta dan wasit Start yang sudah berada ditengah danau di mulut kanal. Terpanggang matahari di suhu 38 derajat!.

 

Selain harus menentukan siapa lawan siapa pada babak berikutnya, untuk menentukan tim mana yang berhak memilih jalur, diperlukan waktu tempuh dari race terakhir yang dilalui setiap tim, semua angka waktu yang diberikan mereka salah karena 1 baris waktu terselip dalam kertas kerja mereka. Benar – benar bencana! But again, the show must go on…

 

Panitia juga menyiapkan konon 130 volunteer, anak – anak SD yang siap disuruh dan berlarian kemana saja. Sayangnya, again, mereka hanya bias berbahasa Portugese. Siang hari mereka berkeliaran membagikan keranjang buah – buahan kepada panitiad dan peserta. Dengan bangganya, Andre, Race Director memanggil 3 diantara mereka dan katanya mereka sudah tau harus kemana mengirim list peserta yang diberangkatkan pada babak selanjutnya. Sampai pada waktu keberangkatan, Alex Patsir, Chief Starter tak juga mendapat kertas yang nyasar entah kealamat mana. Akhirnya saya geret anak – anak itu berlarian ketempat Start hanya untuk menunjukkan “alamat” yang benar, dan kemudian Eric, Chief Judge menggeretnya ketempat put in, tempat untuk meluncurkan perahu yang akan diberangkatkan. Walau dalam Bahasa apapun, yang penting sekarang mereka tau alamat yang dituju! Satu hal yang perlu dipelajari untuk pelaksanaan WRC tahun mendatang, semua harus on time dan cepat di arena WRC. Jika dalam kejuaraan Nasional kita bias sedikit longgar dalam waktu, di WRC  setelah peserta sampai finish peserta sudah menunggu didepan tenda juri dan mereka tak mau menunggu lama untuk meligat skor mereka.

 

Ketika kami piker kondisi akan menjadi lebih baik di hari kedua, saat lomba Slalom tim ini menghadirkan bencana baru. Sedianya saya berharap hanya punya sedikit pekerjaan dan dapat menikmati pertandingan kali ini, rupanya kejadian Bosnia (2009), dan Costarica (2011) dimana saya harus mengambil alih perhitungan scoring terjadi lagi. Di lapangan tim scoring menyiapkan 5 (dari 8 yang dijanjikan) pencatat dengan tablet yang masuk dalam system mereka. Para pencatat ini banyak melakukan kesalahan pencatatan, mungkin mereka menilai sendiri, bukan melihat papan angka yang diangkat para wasit. Tentunya hal ini jadi pekerjaan ekstra lagi, bagi saya yang harus memback up kekurangan itu. Ruang scoring yang nyaman ber AC punjadi tak nyaman lagi. Banyak benar angka yang harus direvisi, setelah revisi masih salah lagi.. saya hitung – hitung ada hamper 1000 angka yang harus diperiksa dihari itu dan benar – benar membuat mata sakit dan tegang luar biasa. Betapa tak boleh jengah sedikitpun.

 

Sore hari setelah rapat dengan panitia, ketua Federasi Arung Jeram Brazil sibuk memprovokasi semua dan menunjukkan video live streaming tentang kesalahan wasit menilai di salah satu gawang. Saya sudah malas rasanya membuka lembaran – lembaran penilaian juri tapi akhirnya kita temukan bahwa salah satu wasit terbalik memberikan urutan penilaian. Pelajaran pertama yang harus diambil adalah wasit gawang harus jeli dalam melihat bendera yang ada di dada peserta. Seharusnya memang ada bendera yang cukup jelas di bagian depan perahu (tertulis dalam Race Rules), namun pada kompetisi ini perahu yang digunakan terbatas dan harus digunakan bergantian, sehingga taka da waktu lagi untuk memasang bendera di tempat put in. Pelajaran kedua adalah teliti dalam menyebarkan Start list. Start list yang digunakan wasit gawang tersebut adalah start list saat belum diadakan pengundian untuk peserta yang memiliki skor sama pada hari sebelumnya. Setelah evaluasi akhir, kami putuskan untuk dilakukan pengesahan oleh Chief Judge untuk Start list dan Official. Kejadian ini pernah terjadi di New Zealand (WRC 2013) saat scoring & timing team membagikan Start list yang salah untuk lomba H2H. Akhirnya pada hari itu sampai jam 11 malam saya baru selesai memperbaiki lembar – lembar perhitungan slalom dan hasil akhir. Banyak tim yang menghampiri kami karena hasil yang mereka lihat dari web berbeda. Sue Liel Cock (IRF General Secretary) selalu ingin hasil lomba secepatnya tayang di website, alhasil malah menjadi problema. Akhirnya para júri memutuskan untuk mengganti Official Result yang telah ditempel di papan info. Dalam Race Rules terbaru (versi May 2014), tertulis bahwa dewan júri berhak mengganti Official Result jika terdapat kesalahan teknis (General Rules #17), sebelum lomba selanjutnya dimulai. Yang dimaksud kesalahan teknis adalah kesalahan perhitungan dll, bukan kesalahan para wasit dalam memberikan penalty.

 

Saat lomba, dalam sehari kami ikut rapat 3 kali, jam 17:00 untuk para wasit dan juri, jam 19:00 dengan panitia, dan jam 20:00 Captain Meeting dengan para peserta. Hanya rapat pertama berjalan sesuai jadwal setiap hari, para wasit dan juri sudah terbiasa terdidik disiplin, namun rapat dengan panitia dan peserta selalu mulur dari waktunya. Terkadang saya mendengar para juri dan wasit membicarakan jam karetnya orang Brazil dan hati saya kebat kebit ingat kita juga punya “jam” yang sama. Ah semoga tahun depan tidak begitu.

 

Lomba Sprint, Head to Head dan Slalom diadakan di kana; Itaipu yang spektakuler. Setiap peserta tak perlu takut mendapat jalur yang tidak adil saat start dalam lomba H2H, karena pertarungan dimulai dari danau di mulut kanal. Dari garis Start dibentangkan webbing hijau hingga masuk ke mulut kanal, peserta tidak boleh menyeberangi garis hijau tersebut sehingga tetap berada pada jalurnya. Sepanjang jalur terdapat jalan beton sehingga para supporter dapat berlarian mengejar tim yang dijagokannya. Slovenia dating dengan 26 supporter yang sangat gegap gempita. Mereka adalah anggota dari klub yang berangkat dan menabunguntuk pergi bersama dalam setiap lomba. Menjadi jelas bagi kami tanpa melihat arena tim yang lewat adalah Slovenia jika terdengar kegaduhan suara terompet dan berbagai suara gaduh lainnya.

 

Lomba Down River Race diadakan di venue spektakuler lainnya, Iguacu Falls, salah satu dari  7 keajaiban dunia. Kami hanya  punya  waktu 2  jam untuk menyelesaikan  lomba Down River Race sebelum tempat

Wisata jet boat digunakan untuk kegiatan wisata.  Perahu dan peserta dibawa naik jet boat, perahu karet besar dengan 2 mesin masing-masing berkekuatan 100pk ke hulu sungai tempat air terjun turun. Sungguh indah pemandangan di kaki air terjun, kita bias melihat tirai air terjun yang luar biasa lebarnya membentang dari Brazil hingga  ke Argentina. Sayangnya  lomba  ini  hanya  memakan waktu 13 menit,  7  menit kurang  dari  minimum  waktu tempuh minimal untuk kelas DRR yaitu 20 menit. Upaya untuk memindahkan tempat finish ke tempat lebih hilir  tidak berhasil karena tidak ada  pilihan untuk take out.  Saat inipun sedang dipikirkan pemecahan masalah ini, karena tim telah berlatih untuk jangka waktu yang panjang untuk nomor ini dan juga mengingat skornya yang paling tingi yaitu 400 poin. Kendala lain yang dihadapi adalah sungai yang terlalu lebar sehingga  wasit yang  berada  di jet boat untuk memantau

kemungkinan adanya  ramming, blocking dan penaty lainnya tak dapat melihatnya  dengan jelas. Jeram-jeram di sepanjang sungai sangat besar,  walau  dengan perahu 42 sekalipun.  Beberapa  peserta  terbalik dan juga  mudah terganggu gelombang  yang  ditimbulkan jetboat yang  lewat mengantar peserta dan perahu.

 

Tentang Makanan

Saya menulis khusus tentang makanan, karena mengganggu pikiran saya. Pengalaman di Costa Rica (WRC 2011) dimana setiap hari hanya mendapat makanan nasi disiram sup kacang merah, sepotong daging atau ayam, sayuran dan buah menjadi mimpi buruk bagi tim, wasit dan juri dan selalu jadi bahan gunjingan hingga sekarang. Di tahun mendatang konsumsi ini harus kita atur sedemikian rupa dan berbagai macam dan pilihan serta jumlah yang sesuai denga “perut” Negara lain yang jauh lebih besar dari yang biasa kita makan. Untuk sarapan, setidaknya 2 macam roti ditemani selai buah dan kacang, keju dan daging asap, berbagai cereal dengan susu dan yogurt, telur yang diolah jadi scrambled, dadar atau telur mata sapi, kentang, susis harus tersedia dalam jumlah yang banyak. Makanan bisa jadi sumber penyebab keluhan semuanya dan segala yang telah dipersiapkan berakhir dengan buruk dan tak ada artinya lagi.

 

Dalam kongres IRF, saya berkesampatan untuk mempromosikan WRC di tahun mendatang. Saya jelaskan berbagai hal  buruk yang akan mereka temui,  macet di perjalanan, tak ada  air panas untuk mandi, air conditioner, tinggal di desa, supaya  para peserta tak punya ekspektasi  yang berlebihan. Akhirnya mereka malah bertepuk tangan dan ignin sekali melihat tempat “eksotik” yang saya ceritakan.

Dari Joe, President IRF saya mendapat informasi bahwa kurangnya peserta yang  datang ke  Brazil adalah  karena mereka  menabung untuk datang  ke  Indonesia,  mereka perkirakan setidaknya 70 tim akan datang, sementara Brazil hanya didatangi 51 tim. Wow, satu hal yang menggembirakan, namun tentu saja hal ini mengganggu pikiran di sisi lain. Saya pingin buru-buru pulang dan mempersiapkannya.

 

Tim Junior Indonesia

Saya melihat kekecewaan luar biasa di mata  tim dan Pak Agus  Rasjid  yang selama ini berjuang dan bersusah payah membina tim. Indonesia masih berada di garis paling bawah dalam hasil akhir kategori U19 M. Saya malah melihatnya ini  sebagai  kesempatan dan cambuk untuk berlatih lebih keras lagi.

Setidaknya kita tau siapa dan bagaimana lawan kita sekarang,  itu yang penting.  Dan yang  lebih penting  lagi adalah segera berbenah dan berlatih lagi.  Dengan kerja  keras, kita  pasti bisa.  INDONESIA  BISA,  INDONESIA JUARA!!!

 

14 Okt 2014

 

Salam dari Brasil,

Amalia Yunita

 

 

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org