FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

News

16 October 2014 07:44 PM

Kabar dari Foz Do Iguassu, Brazil (1)

Source: Amalia Yunita

Arena World Rafting Championship 2014 (1)

 

Untuk pencinta dan pemerhati olah raga arung jeram di Indonesia

 

Setelah 36 jam terbang mengejar matahari, akhirnya saya menikmati kasur yang empuk di hotel Foz Do  Iguassu,  hotel  yang  bernama  sama  dengan kota  kecil  di  perbatasan antara  Brazil, Argentina dan Paraguay. Masih karena pengaruh jet lag, tak bisa badan ini dibawa tidur saat di Indonesia matahari baru saja naik. Bangun terlambat paginya, dan bertemu dengan Joe Willy Jones  (President IRF,  Chillie), Erick (Head Judges, Canada) dan Goran (Jury, Bosnia). Di arena WRC 2014 ini saya, Erick dan Goran

menjadi Dewan Juri. Kami ber-4 lantas mulai meeting dengan Event Director untuk banyak hal yang perlu dikoordinasikan. Kami meeting dalam Bahasa Portugis atau Spanish dan hanya Joe yang mengerti bahasa mereka. Baru sadar betapa langkanya orang yang dapat bicara Bahasa Inggris  disini. Bahkan di kota besar seperti Sao Paolo, kota satelit nya Rio de Janeiro pun tak banyak yang  mengerti  Bahasa  Inggris.  Hal  ini  bisa  jadi  pelajaran untuk even kita  mendatang, sebanyak mungkin ada  penterjemah, kalau tidak pasti  akan banyak hal  yang  tidak terkomunikasikan dengan baik dan akan jadi sumber masalah. Saya ingat pada even WRC 2007 di Korea, setiap tim punya Liasson Officer dan penterjemah sendiri.

 

Usai makan siang, seperti janjinya kami diperkenalkan kepada semua panitia, siapa mengurus apa, terdapat kurang  lebih 10 orang panitia inti,  sayangnya  kami belum paham atau mereka belum menunjuk Race Director, Course Designer dan Judges Coordinator, orang-orang penting yang akan membantu kelancaran tugas kami. Selain dengan Event Director, orang yang menjadi tempat bertanya hanya Isabel, gadis cantik yang mengurusi pendaftaran semua tim, wasit dan juri, dia yang paling lancar  berbahasa Inggris dan menguasai semua proses  administrasi dan pendaftaran. Sorenya kami meninjau lokasi kegiatan Sprint, H2H dan Slalom di Itaipu Canal, 25 menit dari kota.

 

Hingga  hari ini, canal  tersebut  masih kering  kerontang, dan  seluruh tim yang sudah dating berhari-hari  tak dapat mencoba berlatih di canal  ini. Kami semua dalam kesulitan besar karena air Sungai  Parana  yang  seharusnya dapat mengalir ke  canal  kurang  debit airnya, sehingga  air tak  dapat masuk ke  pintu canal.  Kegiatan WRC ini  mundur dari rencana awal di bulan Agustus juga karena debit air ini. Betapa perubahan iklim telah menggeser musim sedemikian lamanya! Air sungai ini setiap hari digelontorkan untuk membangkitkan listrik di 3 negara, Brazil, Argentina dan Paraguay. Itaipu, sponsor utama kegiatan ini adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga  air  gabungan  kongsi  usaha  dari  swasta  dan pemerintah Brazil  dan Paraguay untuk menjadi generator listrik paling besar di dunia. Untuk meninggikan air di sungai agar dapat mengaliri canal tempat arena kejuaraan, pintu generator harus ditutup, yang manatidak mungkin mengurangi pasokan listrik bagi masyarakat. Kami semua dalam kesulitan besar, namun hari ini  hujan  datang  menjawab doa banyak orang. Saya  teringat bagaimana  kita mengatur berapa pintu air yang harus dibuka saat Kejurnas di Citarum tahun 2001 dan 2005, mungkin hanya di Indonesia hal itu bisa dilakukan. Dikucuri hujan deras dan udara yang dingin, kami  mengelilingi  Canal  sepanjang 430m yang  tampak seperti  tapak kuda.  Canal  ini sebenarnya dibuat sebagai upaya konservasi untuk membantu migrasi  ikan di  Sungai Parana. Namun tak dipungkiri  akhirnya tempat ini  menjadi  venue  kegiatan lomba kayak dan rafting kelas  dunia.  Akhirnya tempat ini menjadi salah satu dari 10 tempat untuk berlatih Canoe Slalom terbaik di dunia. 

 

Panitia  tampak telah mempersiapkan segalanya dengan baik,  mereka sudah memilah-milah lokasi yang tertutup untuk wasit, juri dan media yang dipisahkan dengan penonton, berdasarkan pengalaman mereka  dalam  mengelola kegiatan lomba  kayak.  Namun,  yang  menjadi  isu pada lomba kayak berbeda dengan rafting. Kami ingin ada sedekat mungkin dengan titik finish agar mudah memantau segalanya dan juga mudah bagi peserta untuk melihat hasil dan mengajukan protes  yang hanya  diberi  waktu 5  menit setelah hasil diumumkan. Akhirnya  kami  menyerah kepada tempat yang terisolasi, di pulau yang berada sekitar 20m di depan garis finish. Electronic board besar akan membantu mengumumkan unofficial & official result dan kami akan umumkan posisi juri pada Captain Meeting nantinya. Posisi ini jauh lebih baik dari WRC 2010 di Costa Rica, dimana peserta harus berjalan kaki sepanjang hutan selama 20 menit dan datang dengan marah, karena waktu protes telah usai. Bagaimana menyusun layout lokasi dan posisi penting menjadi pelajaran bagi kita untuk kejuaraan WRC 2015 mendatang.

 

Tim Junior Indonesia

 

Senang sekali  rasanya  Tim  Indonesia dapat berpartisipasi  di  kejuaraan ini.  Tak sia-sia  upaya Pengda  Banten mendidik tim  junior dan mendapat dukungan dari  Konida  Banten.  Saya menyambangi mereka yang kebetulan di hotel sebrang tempat tinggal saya dan panitia. Mereka agak kecewa karena datang lebih awal untuk berlatih, namun akhirnya berlatih mendayung di kolam renang. Semoga mereka tetap bersemangat harumkan nama bangsa!

 

 

Salam dari Brazil,

 

Amalia Yunita

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org