FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

News

24 October 2005 11:55 AM

Dero Tulak Tallu yang tak terlupa dari Luwu

Source: Jelajah

Hari Kamis 16 Desember 2004, dipimpin Bupati Luwu Utara Sulawesi Selatan - Luthfi Mutty, di Lapangan Desa Tulak Tallu Kecamatan Sabbang, memimpin upacara menandai dibukanya Kejuaraan Arung Jeram Terbuka Rongkong Luwu Utara 2004, yang dilaksanakan atas Kerjasama Pemda Kab. Luwu Utara dan Pengda (Federasi Arung Jeram Indonesia) FAJI Sulsel, selama 3 hari sampai tanggal 18 Desember 2004, diikuti 26 (dua puluh enam) Tim dari 8 Provinsi, termasuk peserta terjauh, Pengda FAJI Sumut, yang menduduki Runner-up di klasemen akhir.

Kejuraan Rangkong 2004, yang berlangsung ditengah pertarungan politik lokal dianggap proyek mercu suar Pak Bupati yang mencalonkan diri dalam Pilkada langsung - kini telah berlalu, namun begitu banyak kenangan manis yang tersisa. Selain keramah tamahan dan dukungan masyarakat yang tak terkira, adalah even budaya yang ditampilkan - walaupun hanya kesenian pop lokal mampu merekatkan keakraban masyarakat dan tetamu muda yang berasal dari beragam latar belakang budaya dan etnis. Menjelang dan sepanjang Kejuaraan Arung Jeram, pesta arung jeram terbesar yang pernah digelar di Sulawesi ini dimeriahkan dengan pesta dansa semalam suntuk oleh ratusan muda-mudi setempat yang disebut tarian Dero, selama 7 (hari) berturut turut. Pak Bupati, pak Camat, anggota Muspida, pak Lurah dan para tetua desapun tak segan turun berDero walau hanya sekali dua putaran, mengikuti rencak musik dan langkah para muda-mudi.

Diiringi musik dangdut Pamona yang berirama mirip dangdut koplo, para muda-mudi menari dilapangan desa. Sebagian menari ditengah dengan gerakan mirip poco-poco, sebagian lagi bergandeng tangan menari mengelilingi dengan langkah 2 maju 1 mundur. Pesta diramaikan muda-mudi dari berbagai desa di sekitar Tullak Talu dan Kecamatan Sabbang, dan biasa dijadikan arena perkenalan dan cari jodoh. Peserta lomba yang berjumlah 300 an juga tak melewatkan kesempatan pesta dansa ini, sambil belajar menyamakan gerakan langkah tari, mereka berkenalan dengan para pemudi desa yang ramah dan cantik. Tak ada bau alcohol, tak ada meja judi, atau narkoba, semua gembira ria menyongsong lomba.

Di Kejuaraan Arung Jeram seperti juga Kejurnas Citarum 2005, bisa juga dikatakan sebagai peristiwa budaya, selain kompetisi olah raga. Karena Kejurnas, yang merupakan peristiwa masif para penggiat kegiatan alam terbuka, salah satu peristiwa besar yang melibatkan para penggiat di alam terbuka, selain jamboree Pramuka, kegiatan yang lebih banyak unsur mobilisasinya. Memang ada kegiatan Jamboree Pendakian, Kejuaraan Panjat Tebing, juga Gladian, yang merupakan kegiatan multi even pelatihan, bahkan Rescue Aceh yang melibatkan ribuan Volunteer, namun Kejurnas Arung Jeram yang melibatkan 400 800 atlit, tetaplah satu perhelatan budaya pop yang kolosal, melibatkan banyak unsur kompetensi dan kegiatan alam terbuka, dari urusan logistic, team building, ketrampilan arung jeram, event organizing, medik, operasi rescue, transportasi, komunikasi, penjurian dan banyak lagi.

Kejuaraan Arung jeram yang pasti diwarnai unsur persaingan, kemenangan - kekalahan, kegembiraan juga kesedihan, kepuasan - kekecewaan atas semua penyelenggaran perlombaan, perlu memiliki eskapis, agar peristiwa budaya seperti ini tidak hanya diwarnai gambaran hitam putih, berburu kemenangan atau mendapat kekalahan semata. Gelaran Dero dari Tullak Talu adalah satu blessing, dimana sebuah ragam kesenian pop lokal mampu memberi warna dalam persaingan di antara pelomba. Dero Tullak Talu telah memberi pengingat bahwa, selain persaingan berlomba, berburu hadiah, gengsi dan prestasi, ada nilai yang lebih dalam dan berharga, bahwa keakraban, keramah tamahan, persahabatan dan persaudaraan, adalah makna yang ingin kita dapat dari sebuah lomba.

Dalam even-even besar olah raga sekelas Olimpiade pun, gelaran budaya Cultural Events selalu menjadi perhatian besar dalam penyelenggaraan, menyita segenap talenta terbaik budaya bangsa, cucuran keringat dan biaya besar, untuk menunjukkan keramahtamahan dan tingginya nilai-nilai luhur budaya dijunjung, dengan media pesta kesenian. Akankah Panitia Kejurnas cukup cerdas untuk menampilkan gelaran budaya yang bisa merekatkan rasa, atau hanya gelaran selintas di pangung upacara pembuka.

Kesenian dan tatar Sunda yang juga penuh keramahan, rasanya sangat pantas untuk ditampilkan, juga para kontingen pelomba yang juga dari beragam daerah, bisa saja diwajibkan menampilkan mozaik kesenian daerahnya. Atau haruskah Dero Tullak Tallu di impor ke Citarum? agar jadi menu wajib gelaran Kejurnas Arung Jeram. Nanti kita surati Pak Luthfi Mutty, yang baru saja terpilih lagi jadi Bupati, agar mengirim Tim pelomba plus Tim pemusik Dero. (BdY)

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org