FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Chronicles

04 May 2006 03:49 PM

Survey Katingan : Pendekar Kungfu, Dubes dan Head Hunter

Source: Tim Assesment PB FAJI

 

 

[Baca dulu - Survey Festival Jeram Katingan KalTeng : ada buaya  http://www.faji.org/?go=news&id=66 ]

 

Menjejak bumi Borneo dari arah berbeda Abo dari Sukabumi – Jakarta, Budi Yakin dan Ricky Alexander Maliankay dari Surabaya, Tim Assesment PB FAJI bertemu di Bandara Cilik Riwut Palangkaraya Kalimantan Tengah. Bersama beberapa Pejabat Pemda Kabupaten Katingan melanjutkan perjalanan ke ibukota Kabupaten Katingan, Kasongan, yang jaraknya 90 km dari Palangkaraya.

 

Disertai Pak Emil Siwi, pemandu gaek dari TMII (Taman Mini Indonesia Indah) dan Pak Maryudi, Kepala Anjungan Kalteng di TMII, Tim FAJI langsung beraudiensi dengan Sekda Kab. Katingan, Bpk. Gatin Rangkay. Walaupun bertampang pendekar Kungfu Shaolin namun ternyata beliau sangat familier dan visioner memajukan daerahnya. Menggelar peta topografy buatan Bakorsurtanal, run down survey disusun bersama untuk pergerakan hari berikut.

 

Oh ya jangan salah kira dengan Tim TMII, beliau-beliau inilah yang menghubungkan PB FAJI dengan Pemkab Katingan, dan memiliki networking internasional yang cukup luas, mungkin setara dengan Sekjen Deparlu RI. Saat digelar Festival Budaya di Kabupaten Bukit Raya Kalteng tahun 2005 lalu, atas akses beliau-beliau ini, tak kurang 20 duta besar negara sahabat dapat dihadirkan, itupun minus negara-negara Asia-Afrika yang saat itu lagi memperingati Konferensi Asia-Afrika di Bandung, jadi soal kesaktiannya kita harus angkat topi. Ke depan beliau-beliau ini akan selalu hand-in-hand  dengan FAJI menyemarakkan wisata arung jeram di daerah-daerah.

 

Hari berikutnya Tim FAJI (plus TMII) tatap buka dengan Bupati Katingan, Duel Rawing. Nama beliau yang sangat berbau arung jeram ini sempat jadi canda diantara kami - duel = tarung, lomba ; rawing -> rowing (bahasa Inggris  = mendayung) - sehingga keakraban segera tercipta. Beliau menyambut baik rencana Lomba Arung Jeram di Riam Mangkikit, dalam kaitan Festival Budaya Kabupaten Katingan di tempat yang sama.

 

Kota Kasongan memiliki topografi yang unik, karena merupakan kota pulau ditengah sungai, ini karena dilakukan sudetan sungai di wilayah yang awalnya berada diujung belokan sungai Katingan. Kasongan juga dikenal dengan durian jatuhannya yang kecil ukurannya semerbak aromanya nikmat rasanya dan terkenal sampai Banjarmasin yang jarak tempuhnya 7 jam.. Kalau saja Lomba Arung Jeram Mangkikit jadi digelar bulan Oktober – puncak musim durian - sudah jadi takdir kalau nanti akan banyak peserta lomba mabuk durian cap tikus.

 

Survey dimulai dengan menempuh perjalanan dengan Speed Boat sepanjang 110 km menuju Tumbang Samba, tumbang bukan berarti roboh tapi artinya muara, kalau ada Tumbang berarti ada sungai bermuara di ruas itu. Hampir setiap muara sungai besar menjadi pusat hunian dan ekonomi di Sungai Katingan ini. Sungai Katingan memiliki lebar sampai 200 meter diruas Kasongan – Tumbang Samba, membentang hampir 650 km, berhulu di pegunungan Scwaner, bermuara di Laut Jawa, sepanjang itu pula wilayah Kabupaten Katingan, yang juga memiliki Taman Nasional Sebangau di hilirnya.

 

Setelah makan siang di Tumbang Samba, perjalanan berlanjut ke Tumbang Manggu melintasi Sungai Samba, selama hanya 30 menit.  Disini rombongan di sambut Camat Sanaman Mantikei dan Supervisor HPH setempat yang memfasilitasi rombongan. Selanjutnya rombongan mengunjungi Rumah adat Betang (long house) milik seniman ternama Dayak Katingan Mr. Syaer Sua. Sedikit cerita tentang Sanaman Mantikei – sanaman = besi baja, mantikei = lentur atau melenting, karena di daerah ini ada pandai besi yang mampu membuat pedang sakti, walau setajam silet dan kuat namun selentur pedang china dalam film Crouching Tiger Hiden Dragon, yang diperankan dengan indah oleh Chouw Yun Fat.

 

Cerita soal Mr. Syaer Sua, beliau ini berbadan relatif kecil, tapi ilmu dan kearifannya jangan diremehkan. Tidak saja piawai memainkan biola dan seruling, yang bisa mendesis laksana suara anaconda atau angin hutan, merintih laksana suara tangis hutan ditebang, gemericik laksana gerimis hujan, Mr. Syaer Sua juga dikenal pelatih sumpit kelas dunia. Tim Sumpit Kalteng untuk PON, bahkan Pasukan Elite AD Kopassus kini dibawah asuhannya. Sempat juga beliau atraksikan kemahirannya menyumpit, bola mata di perisai kayu tepat disumpitnya dari jarak 10 meter-an dan sulit dicabut, bagaimana kalau mata musuh, kalau babi hutan yang gemuk saja takluk. Dalam kondisi perang, mata sumpit ini biasa dilumuri upas (racun berbisa) yang sulit dicari penawarnya, karena dibuat dari ramuan hutan dan bisa binatang. Belum lagi pedang pusaka yang beliau miliki, yang sanggup terbang jadi head hunter..... so don’t mess with Dayak tribe... man....

 

Rumah Betang milik Mr. Syaer Sua ada dua, satu yang kini sudah berdiri megah dan ditempati bersama barang-barang pusakanya, satu lagi dalam proses pembangunan. Rumah betang ini berukuran kira-kira 10 x 25 meter, ditopang kayu ulin yang berat dan sangat kuat, sekuat besi katanya, bahkan mampu menjadi bantalan rel kereta api. Masing-masing rumah Betang milik Mr. Syaer Sua ini ditopang kurang lebih 100 pokok ulin, yang terkenal mahal harganya, bahkan kini dilarang dibawa keluar Kalimantan karena sudah langka. Walau hidup sederhana di tengah hutan rimba, kalau dihitung kayu ulin nya, Rumah Betang dan barang pusakanya, beliau ini kaya raya, belum lagi kalau musim pemilu dan pilkada tiba, Mr. Syaer Sua yang seniman musik dan rekamannya beredar seantero Borneo, kontraknya bisa ratusan juta, untuk keluar masuk huma, kampung dan hutan rimba, kampanyekan Partai, Caleg dan Cabup dukungannya, sambil mainkan biola dan seruling yang menggetarkan gendang telinga menyayat rasa.

 

Rombongan menginap di Wisma HPH yang terbuat dari kayu, cukup besar dan megah. Hari selanjutnya rombongan menuju ke Tumbang Hiran, yang terletak di tepian sungai Katingan. Perjalanan ke Tumbang Hiran yang berjarak 60-an km, ditempuh dalam waktu 90an menit, dengan Mitsubishi Strada 4X4 milik HPH setempat, melewati jalan HPH. Jalan tanah ditengah rimba ini, bagi mobil sekelas Paris – Dakar ini, bak jalan Tol Jagorawi saja. Untungnya rombongan kami berangkat setelah jadwal truk-truk log kayu yang puanjang  itu menuju situs logging. Jalan HPH ini sedikit berbeda rambunya dengan jalan biasa, dibeberapa tempat ada penunjuk panah dimana kita harus mengemudi di sisi kanan jalan, bukan di kiri seperti seharusnya. Ini karena jalan HPH dirancang untuk dilewati truk trailer log yang puanjang itu, kalau kita salah ambil sisi, berpapasan dengan truk log yang berbelok bisa-bisa ekornya mampir ke kap dan kaca depan mobil kita, cilaka 13 kan....(BdY)

 

(bersambung ke Survey Katingan – lanjutan 2)

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org