FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

23 September 2007 10:12 PM

Selancar Sungai (Riverboarding)

Sumber: Eiger Adventure News (EAN) Edisi 47 #Juli-Agustus

 

Kegiatan selancar sungai mirip belajar naik sepeda, mengatur keseimbangan, bagaimana membelok, dan sebagainya. Lebih mudah langsung dicoba daripada diuraikan teorinya. Jadi, tidak usah melanjutkan membaca artikel ini kalau hanya ingin tahu cara memainkannya. Tapi, apa sebenarnya selancar sungai itu? Ada teman yang menggambarkannya sebagai bersepeda downhill tanpa rem. Well, tidak sepenuhnya begitu. Berselancar di atas (atau kadang di bawah) sebilah papan mengarungi arus, menembus jeram, ada seninya. Makin dikuasai makin dapat kita kendalikan, kita lambatkan atau percepat, meliuk seperti pemain skateboard, bahkan diajak berakrobat seperti BMX.

 

 

Sejarah
Riverboarding lahir pada tahun 1970an. Awalnya muncul dari kebosanan sekelompok pemandu rafting di Perancis. Mereka menginginkan “berenang di sungai” dengan cara yang lebih menarik, lebih menantang. Maka orang-orang yang sudah sangat akrab dengan karakter sungai itu mengikat beberapa jaket pelampung menjadi satu, lalu terjun. Ya, sesederhana itulah cikal bakal lahirnya riverboard. Harus diakui, orang Perancis memang paling kreatif menciptakan tantangan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Salah satu faktor tantangan dalam kegiatan yang juga dikenal dengan sebutan hydrospeed ini adalah kecepatan. Pada bagian arus yang sangat deras, kecepatan peselancar bisa melebihi 30 km per jam. Sama sekali tidak cepat jika dibandingkan kebut-kebutan dengan sepeda motor. Namun, tantangan lainnya adalah hubungan langsung antara pelaku dengan sungai. “It’s just between you and the river”, begitu semboyan para pecintanya. Papan selancar “modern” yang umumnya terbuat dari karet busa itu berketebalan 8-12 cm. Di air sungai yang bergolak, terkadang papan setebal itu tidak berarti apa-apa. Dengan perahu karet atau kayak, kita seringkali ditelan jeram. Dengan riverboard, hampir sepanjang waktu kita berada sejajar dengan permukaan air. Sisanya, sebentar terbenam sebentar terlempar ke udara. Itu sebabnya ada situs internet tentang selancar sungai memasang judul Face Level (www.facelevel.com).


Tak lama berselang, orang-orang Perancis pencetus riverboarding ini mengganti pelampung yang awalnya sekadar diikat dengan karet busa. Bentuknya pun terus dikembangkan, hingga mencapai bentuk dasar papan selancar sungai yang dikenal sekarang.


Kini, riverboarding sudah menyebar luas di Eropa, Amerika dan Australia serta Selandia Baru. Namun kata Robert Carlson, salah satu tokoh riverboarding modern, sebenarnya kegiatan hydrospeed sudah ada sejak zaman prasejarah! Bagaimana bisa? Menurut Carlson, siapa pun yang melompat masuk ke sungai dengan alat pengapung apa pun, lalu “berselancar” mengikuti arus, dapat dikategorikan sebagai peselancar sungai. Misalnya, ada kelompok-kelompok manusia purba yang memanfaatkan pohon tumbang atau balok kayu sebagai alat transportasi. Sampai sekarang pun kegiatan semacam itu tetap ada. Contoh, coba main ke desa-desa dekat sungai. Anak-anak usia SD dengan santai berceburan di sungai deras acapkali hanya dengan batang pisang atau bambu. Seolah jaman prasejarah masih berlangsung.


Kenapa riverboarding sangat terlambat masuk Indonesia? Rasanya bukan hanya soal harga, walaupun harga riverboard di internet rata-rata di atas 3 juta kalau dirupiahkan. Mungkin yang lebih berperan adalah lambatnya arus informasi. Sekarang, dengan mudahnya kita bisa berselancar di internet, mudah-mudahan arus informasi jadi sekencang arus sungai sehabis hujan di hulu, sehingga kita di Indonesia segera dapat menyelancari sungai-sungai kita yang tak terhitung potensi dan tantangannya, bahkan berpartisipasi dalam lomba-lomba hydrospeed yang sudah banyak digelar di mancanegara.

 

Perlengkapan
Kalau carrier dan sepatu trekking adalah perlengkapan dasar dalam mendaki gunung, maka perlengkapan dasar riverboarding tentunya riverboard. Setelah itu ada perlengkapan keselamatan, yaitu pelampung, helm, serta pelindung lutut dan tulang kering. Selain itu, ada sepatu katak sebagai perlengkapan pembantu.

 

Papan selancar sungai

Ada dua jenis bahan yang biasa digunakan untuk membuat riverboard modern, yaitu karet busa dan campuran plastik tahan bentur. Yang paling banyak dikembangkan adalah papan busa, karena lebih tahan benturan. Papan plastik berongga umumnya digunakan di sungai-sungai yang tidak banyak batu atau lebih dalam. Bobotnya ringan, sekitar 7 kg. Dapat dibuat dengan bentuk yang aerodynamic, sehingga sering dipakai untuk lomba kecepatan dan slalom. Sedangkan papan karet busa beratnya antara 7-15 kg. Ada bentuk-bentuk khusus racing, free style, boogie, rescue.

 

Pelampung
Walau anak-anak desa biasa bermain di sungai yang cukup deras hanya bercelana kolor, pelampung tetap syarat mutlak dalam riverboarding. Pertama, karena kita tak seakrab mereka dengan karakter sungai. Andai pun ketrampilan renang kita sehebat para “bolang” itu, azas mengutamakan keselamatan jangan ditawar jika kita ingin melakukan kegiatan secara bertanggungjawab. Kedua, bukan rahasia lagi para pelaku kegiatan di alam terbuka umumnya makin “terangsang” jika risikonya makin besar. Jeram-jeram kecil, yang mungkin masih cukup aman diarungi tanpa pelampung oleh perenang ulung, dengan segera menjadi kurang menantang jika kita “bersenjatakan” papan selancar. Tanpa sadar kita akan melampaui batas dalam rangka mencari jeram yang lebih berat. Jadi, biasakanlah sejak awal untuk memakai pelampung.


Pelampung yang tepat untuk kegiatan ini adalah pelampung sungai yang biasa dipakai ber-kayak. Berbeda dengan pelampung untuk rafting, pelampung kayak dikenakan seperti kita mengenakan kaos oblong, atau dengan restleting di depan, webbing pengetat ada di kedua sisi.

 

Helm sungai

Sama dengan pelampung, helm mutlak untuk keselamatan. Helm yang biasa dipakai untuk rafting cukup memadai. Namun seiring dengan naiknya tingkat kesulitan sungai yang kita pilih, pertimbangkanlah helm khusus, yang batoknya menutup telinga dan berfungsi melindungi bagian sisi kepala. Helm khusus selancar sungai juga mempunyai pelindung mata seperti helm motor, hal ini untuk menghindarkan mata kita dari cipratan air yang bisa memedihkan kalau kita tabrak dalam kecepatan tinggi. Jika menggunakan helm ini, kita bisa memasuki jeram besar dengan mata terbuka lebar.

 

Pelindung lutut dan tulang kering

Seperti juga helm, ada pelindung lutut dan tulang kering yang dirancang khusus untuk berselancar sungai. Tapi cukup aman bila digantikan dengan pelindung softball. Pelindung khusus memiliki tempurung pelindung lutut, menyatu dengan bahan yang lebih empuk untuk pelindung tulang kering.

 

Sepatu katak

Berbeda dengan pelampung, helm dan pelindung kaki, yang merupakan syarat keselamatan, sepatu katak atau swimming fin memudahkan kita melakukan manuver. Tanpa fin kita mungkin hanya hanyut terbawa arus. Sepatu katak bisa tidak digunakan jika kita hanya ingin bersenang-senang di arus yang tidak terlampau deras. Fin yang kita pilih tidak perlu yang berkualitas top, cukup yang kelas menengah saja, dengan harga sekitar seratus ribu rupiah lebih. Fin untuk selancar sungai bentuknya pendek dan agak kaku. Fin dapat membantu kita melaju lebih cepat dari arus sungai, sehingga mampu menghindari pusaran yang tak ingin kita lalui, atau justru berpacu memasuki jeram yang menantang.

 

Perlengkapan lain

Beberapa perlengkapan lain dapat meningkatkan kenikmatan kita dalam berselancar sungai. Sarung tangan motor dapat mengurangi risiko telapak tangan lecet terkena pegangan papan selancar. Kacamata renang, jika kita tidak menggunakan helm khusus yang berpelindung mata, akan membuat kita lebih tahan lama di air tanpa mata menjadi merah. Bagi yang berkacamata minus, dapat membeli kacamata renang dengan lensa sesuai dioptri kacamata. Ada juga yang memasukkan pakaian selam (wetsuit) ke dalam daftar ini, karena bisa membantu menghindari lecet jika mengarungi bagian sungai yang dangkal berbatu, juga menambah daya apung (buoyancy), walaupun sedikit menghambat gerakan. Perlengkapan tambahan lainnya adalah kantong air (hydration pack), terutama jika kita berselancar jarak jauh seharian, karena walaupun selalu berendam di air, kekurangan cairan tubuh akan mempermudah otot terserang kram.


Pengembangan
Seperti halnya hampir semua kegiatan di alam terbuka, selancar sungai bisa menjadi kegiatan “santai” hingga bentuk petualangan yang sangat berbahaya. Para petualang riverboarding mengejar tantangan hingga ke sungai-sungai buas di Afrika, antara lain Sungai Zambesi, salah satu “Everest”-nya arung jeram. Di lain sisi, banyak sungai yang membelah kota di Eropa ramai pada akhir minggu oleh para peselancar, mereka melepas ketegangan syaraf dengan ber-freestyle, atau melepas ketegangan otot dengan ber-jogging di atas riverboard. Sayang, kebanyakan sungai kota di negara kita kurang menarik selera karena harum sampahnya.
Mirip rafting, canoeing dan kayaking, riverboarding juga dikompetisikan dalam beberapa mata lomba. Selain kecepatan, ada halang rintang, slalom, bahkan rally jarak jauh. Dan masih terbuka banyak kemungkinan untuk menggabungkannya dengan jenis kegiatan lain, seperti bersepeda cross country, trail running, panjat tebing, sehingga menjadi multilomba yang kreatif.

Selain sehat fisik dan kuat mental, ketrampilan renang terbukti membantu kita bermanuver dan meminimalkan bahaya atau resiko subyektif, yaitu yang datang dari diri kita sendiri. Tapi, seperti juga pada jenis-jenis kegiatan di alam terbuka yang lain, selalu ada bahaya obyektif, yaitu yang datang dari alam atau medan. Selancar sungai sepenuhnya aman, jika kita mampu membaca karakter sungai dan tanda-tanda alam serta mematuhinya. Setelah mengenal alat di tepian, memfasihkan teknik-teknik di jeram kelas III dan IV, tidak bijaksana langsung terjun ke kelas V tanpa ba-bi-bu. Petualang yang sudah kenyang asam garam sungai tidak menganggap scouting, meninjau bagian sungai yang akan dilalui, sebagai kurang heroik.
Selancar sungai membutuhkan mental yang kuat dan tidak mudah panik. Karena menghadapi jeram, apalagi yang berenteng, dituntut untuk mampu mengambil keputusan dengan sangat cepat. Menghadapi standing wave 3 meter, atau bahkan melompati air terjun kecil, pasti akan memompa kencang adrenalin. Dan mungkin itulah yang menyebabkan kita kembali lagi dan lagi.

 

Selamat mencoba … !!!  (Harjanto Suwarno)

 

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org