FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

25 April 2007 04:11 PM

Best of the Best: Rindukan Semangat Persaudaraan

Sumber: Amalia Yunita / PB FAJI

Tulisan ini adalah cerita pengalaman pribadi saya, tentang apa yang saya rasakan dan saya alami sebagai Ketua Bidang Lomba atau bahasa kerennya Race Director di tiga kali kejurnas dan beberapa kali kejuaraan tingkat nasional.

Ketika pertama kali saya memikul tanggung jawab ini di Sungai Serayu, sepuluh tahun yang lalu, challenge saya yang terbesar adalah mengedukasi peserta akan suatu bentuk format lomba yang bukan hanya sekedar mengandalkan kecepatan dan kekuatan, tetapi juga teknik mengarungi jeram. Adanya babak penyisihan dan babak utama membuat sebagian peserta tersingkir dan kecewa.

Kejurnas kedua digelar di Sungai Citarum, saya dihadapkan suatu challenge yang lebih besar. Bagaimana menyelenggarakan lomba dengan peserta 82 tim, dengan hanya 10 perahu dalam waktu empat hari. Saat itu sebagian peserta baru pertama kali ikut dalam bentuk lomba yang saat itu formatnya sudah mengikuti aturan internasional. Saya punya tantangan dobel, edukasi peserta yang makan waktu berjam-jam saat teknikal meeting dan bagaimana menyelesaikan lomba sebelum matahari terbenam. Sungguh melegakan ketika semuanya dapat terselesaikan.

Sebelum Kejurnas berikutnya, saya bantu teman-teman di Sulawesi Selatan untuk selenggarakan lomba di Sulawesi Selatan. Adalah pengalaman yang tidak ternilai, ketika saya kumpulkan beberapa guru SD di tempat terpencil (karena yang sarjana disana adalah guru-guru), saya beri mereka training selama 2 hari, latihan simulasi dan kemudian turun untuk menjadi tim juri. Saya bangga dengan integritas (baca:kejujuran) mereka, bahkan ketika teman-teman sekampungnya harus menelan pil pahit terkena penalti dari mereka, dan mereka dimarahi tak punya solidaritas terhadap ’tim daerah’ mereka, mereka tak bergeming.

Kejurnas ketiga di Citarum buat saya paling sedikit tantangannya. Jalur lomba sudah pasti dan juga memang tak punya alternatif lain. Peserta sudah terseleksi dan teredukasi di pengda-pengda dan rasanya tinggal mengibarkan bendera start. Karena ini cerita tentang pengalaman pribadi, jadi saya juga akan berbagi tentang apa yang saya rasakan waktu itu sebagai pembina dari tim Arus Liar Eiger yang untuk pertama kalinya tersingkir dari peringkat teratas oleh tim kebanggaan saya juga Kapinis. Hal yang paling mengharukan buat saya adalah ketika melihat mereka bersaing ketat dan akhirnya kalah saat bertarung di hari akhir. Di puncak ketegangan itu kedua tim saling berpelukan, bertangisan, bertukar baju dan akhirnya berdoa bersama. Tak ada kekecewaan atau menyalahkan satu dengan yang lain, karena semua telah berusaha dan memberikan yang terbaik.

Best of the Best, kejuaraan tingkat nasional yang berawal dari mimpi. Mengawali dengan harapan bertemu pihak-pihak yang bersedia jadi penyelenggara dan tanpa disengaja awal Februari bertemu dengan Bu Tien dari Dinas pariwisata Banjarnegara yang punya semangat yang sama, digodog dalam waktu yang sangat singkat bersama Ketua Umum Mayjen Safzen Nurdin dan jajarannya, dan akhirnya terselenggara juga. Persiapan yang singkat diantara kesibukan penanggulangan bencana yang terjadi dimana-mana.

Kembali bicara tentang challenges, banyak kemudian tantangan yang dihadapi dari sisi teknis terutama dari alam. Dua kali saya dan tim coba lakukan survey bersama tuan rumah Serayu Adventure, namun naik turun debit air yang signifikan buat kami tak juga dapat putuskan jalur yang terbaik. Dalam arti kata dapat benar-benar menguji peserta yang semuanya THE BEST!, yang akhirnya juga jadi beban baru. Bertambah bingung karena Serayu punya pilihan alternatif put in dan take out dimana-mana. Andai Serayu seperti sungai lainnya yang tak punya pilihan, tentu mengurangi variabel ini. Satu minggu sebelum D Day saya sempatkan turun bersama-sama tim-tim Jabar, lagi-lagi terhajar banjir, tertahan di hole yang besar, perahu terbalik dan tercecer. Ketika itu sudah banyak tim-tim yang datang untuk melakukan latihan di sungai Serayu. Seluruh detail teknis persiapan akhirnya harus menunggu keputusan pemilihan jalur yang akhirnya baru diputuskan 3 hari menjelang lomba. Itupun dengan kebingungan detail garis finish Slalom yang harus dihubungkan dengan tempat angkat perahu. Ah ternyata Serayu ku tak semanis dulu... Akhirnya cuaca jadi tantangan utamanya. Target saya selesaikan lomba sebelum jam 2 siang. Saya tak mau ada tambahan resiko melihat peningkatan air yang luar biasa terjadi hampir setiap hari setelah hujan lebat di siang sampai malam hari. Walau resikonya, mulai jam 4 pagi dan terbirit-birit memulai sesuai jadwal yang direncanakan.

Ada rasa yang mengganjal ketika teman-teman daerah yang laporan melalui sms sudah tiba di kampung halamannya dan saya mintai feedback. Munzil melihat ada rasa PERSAUDARAAN diantara kita yang terkikis oleh semangat RIVALITAS!. Ah ya.. kamu benar.. itu yang hilang diantara kita... entah kenapa... terlalu kerdil rasanya kalau harus menyalahkan siapa-siapa.. juga salahkan waktu yang terbatas.. paling baik ya salahkan diri sendiri yang alpa akan momen yang bisa jadi sarana perekat...

Mudah-mudahan ini bisa jadi TANTANGAN UTAMA bagi kejuaraan berikutnya, entah siapa penyelenggaranya, namun ini bukan tantangan bagi penyelenggara, tapi juga buat kita semua.. untuk diawali dengan jiwa yang bersih dan senantiasa berpikir positif. Semoga!

 

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org