FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

Articles with category Wisata

04 August 2006 01:28 PM

Meniti Jeram Membuang Ketegangan

Sumber: Majalah Nirmala, edisi Juli 2002
PLACE
Majalah Nirmala
Meniti Jeram Membuang Ketegangan
Place: Monday, 12 Aug 2002 14:39:51 WIB
Send this article Print this article
Majalah Nirmala, edisi Juli 2002

Bukan teriak asal teriak, di atas perahu karet yang dihempas arus liar sepanjang aliran tanpa sadar timbunan stres dalam otak terkuras. "Awalnya takut, tapi kini saya ketagihan...ha..ha " begitu ungkapan jujur Pratiwi, seorang sekretaris direktur sebuah perusahaan pertambangan di kawasan Jakarta Pusat saat menceritakan pengalaman pertamanya berarung jeram.

Sebagai orang'kantoran' dengan irama kerja yang tergolong ketat, tak pernah terbersit sebelumnya untuk memasukkan kegiatan arung jeram dalam daftar aktivitas week-endnya. "Arung jeram? Wah... seram" kata Pratiwi. Namun ketika seorang atasan di kantornya mentraktir untuk berarung jeram bersama, dengan terpaksa Pratiwi bergabung dengan 25 orang teman-teman sekantornya.

"Tiga malam sebelumnya saya susah tidur membayangkan akan berarung jeram. Saya bisa berenang tapi buat berarung jeram..., rasanya serem juga. Sebenarnya saya takut tapi ingin mencoba," lanjutnya. Dan pada hari H itu (akhir bulan lalu) ternyata petualangan itu berjalan mulus. Di atas aliran Sungai Citarik, dari kawasan Pendopo hingga Pelabuhan Ratu, selama hampir 3 jam Pratiwi dan kawan-kawan mencatat pengalaman yang mengesankan.

Begitu perahu karet yang memuat 6 peserta plus seorang pemandu yang dinaiki Pratiwi mulai bergerak, wajahnya memuca't, begitu kata Pratiwi menirukan komentar teman-teman di atas perahunya. Sekali, dua kali melewati jeram...wow, seolah rasa takutnya hilang tersapu air. Sekitar satu jam pertama berhilir didorong arus air, dihempas jeram, merupakan perjalanan yang mendebarkan. Namun pelan-pelan ketika kesadarannya mulai bisa menangkap aba-aba sang pemandu, otaknya mulai berpikir dan sedikit demi sedikit Pratiwi mulai bisa mengontrol diri dan mengikuti aba-aba sang pemandu. Dan mulailah Tiwi merasa asyik. Yang tadinya hanya suara teriakan lantang yang terdengar saat menyambut jeram, kini berganti dengan gelak tawa di antara mereka. Agaknya ketakutannya sudah terkuras habis.

"Asyik, bisa teriak sepuasnya, seolah menemukan dunia baru. Kami semua merasa benar-benar segar kembali. Buktinya, ketika pemandu memberitahu bahwa kami semakin mendekati Jeram Goodbye, jeram terakhir di dekat pantai Pelabuhan Ratu, saya semakin merasa kehilangan jeram-jeram itu," cerita Pratiwi sambil memamerkan bekas bibirnya yang jontor karena terantuk pinggiran perahu karet saat perahunya dihempas arus. Begitu mengesankannya petualangan itu buat Pratiwi, sehingga pengalaman pertamanya berarung jeram itu tak habis-habis terus diceritakan kepada handai taulannya.

Bukan lagi monopoli para pecinta alam
Olahraga arung jeram di Indonesia memang menjadi fenomena yang sangat menarik. Sekarang begitu ramai peminatnya. Dulu, olahraga ini seolah hanya dimonopoli oleh kalangan pecinta alam, kini siapa pun dapat menikmatinya dengan gampang.

Arung jeram kini tak hanya dijadikan sebagai sarana untuk meraih prestasi dalam dunia petualangan, tetapi juga sudah menjadi sebuah alternatif hiburan bagi khalayak umum. Menurut penuturan para pemandu, meningkatnya peminat arung jeram telah menjadikan olahraga 'arus liar' ini sebagai peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Tak mengherankan jika makin banyak operator (penyelenggara) bermunculan, tersebar di seantero wilayah negeri kita. Saat ini, tak kurang dari 20 operator beroperasi menjalankan bisnis arung jeram di berbagai sungai yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

Mudah bagi siapa saja
Mudah, begitu alasan utama sehingga arung jeram cepat memasyarakat.
"Siapa saja, tak hanya orang dewasa, yang masih anak-anak pun dapat mencoba berarung jeram. Yang penting berbadan sehat dan berani, bahkan yang tidak bisa berenang pun tidak menjadi hambatan untuk mencoba berarung jeram," ungkap Lody Korua salah satu pimpinan PT Lintas Jeram Nusantara. Menurut Pratiwi, tak ada persiapan khusus sebelum berangkat ke Citarik, yang penting merasa cukup sehat. Sesampai di lapangan, Tiwi menerima perangkat pengaman seperti pelampung, topi pelindung kepala, dan pembekalan teknis secukupnya dari para pemandu. Selebihnya, secara naluri pasrah saja pada aliran air begitu berada di atas perahu karet. Pada keadaan khusus, misalnya melewati jeram, maka pemandu yang berada di setiap perahu akan memberi aba-aba bagaimana cara mengendalikan perahu menggunakan dayung yang dipegang masing-masing peserta. "Yang harus selalu diingat, saya tidak boleh panik," begitu tutur Pratiwi.

Banyak alasan orang gemar berarung jeram, salah satunya adalah sebagai pelepas ketegangan atau stres seperti yang diungkapkan oleh Milawati, warga Pondok Gede, seorang penggemar arung jeram. Hingga kini Mila sudah lebih dari 25 kali beraung jeram. "Sudah menjadi semacam kebiasaan, dua bulan sekali saya pasti turun ke sungai," tutur lulusan Fakultas Kedokteran UKI ini yang sering mengajak adik-adiknya. Sejak pertama kali mencoba arung jeram tahun 1995 di Sungai Citarik, selanjutnya Mila seakan ketagihan. Bahkan dalam perjalanannya ke Bali dia sempatkan mencoba aliran deras Sungai Ayung di sana.

Lain lagi kata Wim Salim, lelaki muda yang sehari-hari berprofesi sebagai asisten fotografer. "Dulu saya takut karena tidak bisa berenang, tetapi setelah mencobanya sekali, saya malah ketagihan. Rasanya pikiran menjadi segar setelah berarung jeram. Inginnya setiap minggu berarung jeram. Sungai Citarik, Cicatih,dan Sungai Asahan sudah pernah saya coba"(bersambung)
Sumber: Majalah Nirmala

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org