FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

03 August 2006 06:39 PM

Ekspedisi Lintas Musi : MENEMBUS JALUR PERAWAN

Sumber: Laporan: Sutrisman Dinah, Gemapala Wigwam FH Unsri

PENGANTAR:  Gerakan Mahasiswa  Pencinta Alam (Gemapala) Wigwam Fakultas Hukum Unsri, tanggal 18-31 Juli  menyelusuri Sungai Musi mulai dari Desa Tanjungraya (Kecamatan Pendopo, Lahat) sampai Kota Palembang. Pengarungan hari pertama, 22 Juli 2006 merupakan jeram eksotis membelah hutan tropis Bukit Barisan sekitar 40 kilometer dari keseluruhan lebih dari 400 kilometer hingga Jembatan Ampera.

 

LAYAKNYA sebuah ekspedisi, manajemen perjalanan Ekspedisi Lintas Musi Wigwam 2006, persiapan berlangsung enam bulan. Termasuk latihan fisik di Kampus Unsri dan latihan "kering" di perairan Sungai Musi di Palembang. Hari keberangkatan 18 Juli di Kampus Bukit-esar, dan dilepas dengan jamuan makan siang di kantor Harian Umum Sriwijaya Post, tim berjumlah 22 orang bergerak menggunakan dua mobil minibus Rescue pinjaman dari PDI-Perjuangan Sumsel.

 

Menjelang malam, tim tiba di kawasan wisata air terjun Bedegung (Tanjungagung, Muaraenim) dan disambut Kepala Dinas Pariwisata Muaraenim Achmad Jisi SH, lengkap dengan sajian khas lemang pulut (ketan putih). Esoknya, seharian penuh, seluruh anggota tim berlatih di jeram Sungai Enim. Latihan di arus deras Sungai Enim dilakukan, untuk

kesiapan fisik dan psikologis tim menghadapi hulu Sungai Musi. Di  sini, tim menggunakan dua perahu (rubber/river boat) milik Enim Jeram; Dua perahu ini juga digunakan selama pengarungan disamping dua perahu lainnya milik Badan Kesbang-Linmas Pemprov Sumsel.

 

Pemanasan di jeram Sungai Enim cukup menguras tenaga, dan perjalanan dilanjutkan hingg lewat tengah malam saat tiba di Pelangkenidai (Dempo-Utara, Pagaralam). Jadwal pemanasan di Sungai Lematang ditunda, setelah menyaksikan hasil latihan di Sungai Enim. Gantinya, latihan di hulu Sungai Musi perbatasan Sumsel-Bengkulu hingga Jembatan Musi di Tanjungraya. Saat tiba di Tanjungraya, terus terang, nyali sejumlah anggota tim sempat ciut mendengar cerita tentang jalur sepanjang 12 kilometer, karena jalur ini jarang dilewati --termasuk penduduk setempat-- kecuali pemancing "nekat" dan bernyali baja. Dari survei darat dua bulan sebelumnya, jalur Tanjungraya-Kembahangbaru memang tidak diperoleh informasi. Peta rupabumi (kontur) skala 1: 50.000 yang diterbitkan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional) lembaran Tanjungraya, justeru membingungkan.

 

Banyak tanda-tanda di peta yang jarang ditemui, misalnya, punggungan yang masuk ke badan sungai atau ada tanda yang menunjukkan bukit di tengah sungai. Lagipula, peta tidak mencantumkan badan sungai berupa jeram atau flat (ulak-an, sebutan bahasa lokal) maupun palung sungai (lubuk). Sebut saja misalnya Lubuk Genting, arus sungai yang menyempit hingga empat meter. Secara teori, bisa dibayangkan, bagaimana arus sungai selebar 40 meter tiba-tiba di satu titik menyempit hingga empat meter.

 

Membayangkan medan seperti, nyali langsung drop ke titik nol; Ibarat pipa air sepuluh inci, tiba-tiba di bagian ujung satu inci (2,5 sentimeter), perhitungannya setara dengan semprotan hidran pipa pemadam kebakaran. Belum lagi ruap (sebutan lokal) atau hole, pusaran air di bawah jeram, yang disebut-sebut kerap mematahkan rakit rangkaian 20 bambu pemancing atau rakit pembawa barang.

 

Malamnya, kembali membuka peta untuk melihat perbedaan ketinggian permukaan air di lokasi "tertutup" (informasi). Jarak 12 km dari tempat start dengan Desa Kembahangbaru hampir 100 meter, asumsinya akan ada air terjun kurang dari itu. Pembacaan peta dibandingkan informasi Rifai (60), salah seorang warga desa berpengalaman memancing di jalur itu.

 

Tampang kakek berambut panjang sepunggung, berjenggot dan kumis tak kalah panjangnya –bulu-bulu itu semuanya memutih beruban-- ini, cukup meyakinkan. Kesimpulannya, tim harus melakukan survei darat untuk melihat kondisi sebenarnya. Semula tim survei enam orang. Yakni, dua penduduk setempat Rifai dan Achmad Basri (48, Sekretaris Desa) --rumahnya dijadikan tempat menginap tim di Tanjungraya, Koesmiran dan Endang Mustaqin alias Enkin (dari Pengda Federasi Arung Jeram Sumsel selaku konsultan ahli ekspedisi), Bim-bim skipper  perahu tim pelopor dan saya sendiri.

 

Kemudian, tim survei membengkak menjadi 12 orang, seluruh tim pelopor turun. Survei memotong jalan dari perkebunan penduduk dari atas bukit, turun ke jeram Suruman --titik krusial awal-- di hilir muara Sungai Lintang. Terus menyusuri hingga Lubuk Genting. Pengamatan dari tepi sungai dilanjutkan, hingga Desa Kembahangbaru –seluruh jalur tertutup-- sebagian besar tebing terjal yang dilewati dengan teknik free climbing, tanpa pengaman. Kesimpulannya, jalur dapat diarungi.

 

***

FOTO kamera digital dan dibuka di layar televisi, cukup menjadi bahan informasi seluruh anggota tim. Hasil pemotretan menjadi rekomendasi jalur "aman" dilalui, termasuk fotografer Sriwijaya Post Syahrul Hidayat dan wartawan Kompas Ilham Khoiri diizinkan untuk menikmati jeram ini.

 

Ratusan pendudukan, tetua desa dan Kades Ny RA Kartini Fadilah, belum lepas dari sudut mata. Tiga perahu memutar 90 derajat ke utara dan dayung dihentikan sebagai tanda penghormatan, menghadap ke lokasi pintu batu yang diyakini makam salah satu makam Puyang Empat Lawang. Di sini diyakini masyarakat sebagai penguasa Sungai

Musi Lawang-I, Lawang-II di hulu Sungai Lintang, Lawang-III di Muaradanau (Sungai Kikim), dan Lawang-IV di Ulumusi perbatasan Sumsel Bengkulu.

 

Di Muara Sungai Lintang, salah satu titik krusial terlewati, permukaan Ayik (air atau sungai) Lintang yang jernih tidak terlalu tinggi, bahkan di lokasi ini hanya membentuk riam-riam dan dua perahu kandas di bebatuandi bawah permukaan air. Perahu tim pelopor, mulus menyusuri arus dengan kecepatan diatas 20 kilometer perjam dan tiba-tiba memberi signal berhenti menepi di eddies (arus tenang). Perahu karet kedua, memilih jeram cukup besar dan sempat membentur dinding batu kapur sehingga membuat perahu memutar hampir 180 derajat.

 

Di depan, sekitar 100 meter, sudah menunggu Jeram Suruman sekitar 75 meter. Salah satu jeram terbesar yang arusnya langsung mengarah ke tebing batu kars (batu kapur) membentuk bukit masuk ke badan sungai. Jeram ini disebut-sebut pernah mencerai-beraikan rakit penduduk.

 

Tim sempat bermain-main di jeram ini, perahu tim pelopor melakukan portaging, perahu ditarik ke hulu jeram. Kembali memasuki jeram untuk pemotretan, karena fotografer berada di perahu pelopor dan saat perahu bergerak kamera disimpan di container khusus karena alat fotografi yang dibawa tidak waterproof.

 

Tiga perahu karet, dua berwarna merah dan satu lagi hijau putih sebagai perahu sweeper, berisi 17 personel benar-benar "pesta jeram". Termasuk ketika melalui Lubuk Genting. Ya... Lubuk Genting, arus menyempit tetapi hanya berupa flat, airnya sangat tenang yang tetap menyisakan misteri sedangkan arus di bagian hulu begitu besar dan tiba-tiba menghilang di lubuk ini.

 

Lepas tengah hari, jalur "perawan" sepanjang 12 kilometer yang selama ini tertutup sudah dilalui. Masih ada jeram "tumbuk pisang", arus seolah menyeret dan menumbuk batu onggokan batu besar yang sudah membentuk lubang besar atau under-cut yang sulit

dihindari bila menggunakan rakit.

 

Melewati hutan bambu dabuk, kemudian jembatan gantung, menandai berakhirnya jalur tertutup. Desa Kembahang, Kecamatan Talangpadang (Lahat). Tak ada perkampungan penduduk di sini, selain tiga pondok petani. Desanya sudah pindah sekitar dua kilometer ke atas, persis di tepi ruas jalan Tebingtinggi-Tanjungraya. Desa Kembahang (Lama) sudah pindah tanpa bekas, setelah disapu banjir, dan banyak penduduk yang hilang.

 

Di jeram Kembahang ini pula, insiden terjadi ketika fotografer Sriwijaya Post terlempar. Perahu tim pelopor membentur batu di tengah sungai, jeram panjang sekitar 200 meter dengan air seperti mendidih akibat perbedaan ketinggian sekitar tiga meter. Untung, sekali lagi patut mengucapkan syukur hal terburuk terhindari. Sisa jarak dengan jeram bervariasi sekitar 35 kilometer dan lewat di perkempungan penduduk hingga ke Tebingtinggi menjelang waktu shalat Maghrib. Kedatangan tiga perahu karet sempat menjadi tontonan warga kota kecamatan (84 meter dari permukaan laut) di jalur Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) itu. Hari pertama ekspedisi, menempuh jarak sekitar 40 kilometer, terlewati.

 

Perjalanan selanjutnya, tiga hari pertama masih terdapat jeram-jeram pendek sekadar untuk hiburan. Selebihnya, lubuk panjang dengan arus memutar serta jebakan tali pancing. Pemukiman jarang ditemui hingga ke Muarakelingi, lokasi bermalam kelima. Bahkan ruas Muarakelingi-Muaralakitan (wilayah Musirawas), tim harus mendayung selama 10 jam non-stop, kecuali saat makan siang. Hari ke-8, tim kemalaman di jalan dan baru sampai ke titik target Muara Sungai Lematang pukul 21.00. Kemudian, diserbu angin kencang dan hujan ketika akan memasuki wilayah Palembang. Setelah bermalam di pondok keramba apung di pinggiran kota Palembang, Senin tengah hari tim merapat di Taman Benteng Kuto Besak, persis di hulu Jembatan Ampera dan di sana sudah menunggu para “petinggi” Wigwam dan makan siang bersama tanpa acara seremonial.

 

(HU Sriwijaya Post, Kamis 3/8 hal.1: http://www.indomedia.com/sripo…)

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org