FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

Articles with category Teknik

31 December 2014 03:06 PM

MENGUMANDANGKAN INDONESIA RAYA DI ARENA WORLD RAFTING CHAMPIONSHIP 2015, SEBUAH PERJALANAN PANJANG

Sumber: PB FAJI/Amalia Yunita

 

 MENGUMANDANGKAN INDONESIA RAYA DI ARENA

WORLD RAFTING CHAMPIONSHIP 2015,

SEBUAH PERJALANAN PANJANG

Catatan dari ‘kacamata’ Amalia Yunita

 

Sejak menjadi volunteer judge di WRC 2007 di Korea, alhamdulilah saya tak pernah absen dipilih IRF sebagai official judges atau jury dalam even WRC. Pada setiap WRC Sport & Competition Committee memilih 12 official judges dan 3 juries dari berbagai negara. Enam kali datang di arena WRC, saat dilangsungkan Medal Ceremony pikiran dan hati saya selalu terusik dengan satu pertanyaan: kapan lagu Indonesia Raya berkumandang di arena ini? Mengapa saya hanya mendengar lagu kebangsaan Czech, Jerman, Belanda, Jepang, Slovenia, New Zealand dan rasanya hampir hafal saya dengan nada lagu kebangsaan Brazil karena begitu seringnya terdengar.

 

Pada WRC 2011 di Costa Rica, saya dan Joni Kurniawan yang ikut sebagai volunteer judge ikut merasakan bagaimana morat marit dan sederhananya penyelenggaraan WRC. Di sela-sela kesibukan kami sebagai wasit, Joni melempar bola yang sebenarnya jawaban dari kegalauan saya selama ini. “Mbak, kalau gini caranya kita juga bisa jadi tuan rumah WRC”, pancingnya. “Kita buat saja di Citarik, karena ada jeram kelas 4 dan semua fasilitas sudah ada disana”, lanjutnya. Akhirnya diskusi kita selama 2 minggu di Costa Rica kami bawa dalam rapat PB FAJI dan semua berakhir pada jawaban WHY NOT? LET’S TRY!!

 

Pulang dari Costa Rica, kami memulai proses bidding, awal tahun 2012 kebetulan kecelakaan yang saya alami membuat saya punya banyak waktu luang untuk mempersiapkan proses ini. Setelah mengirimkan proposal dan dipilih oleh S & C Comm, Agustus 2012, IRF mengirim utusannya ke Indonesia yaitu Joe Willy Jones yang saat ini menjadi President IRF dan Freddi, Chairman dari Australasia Rafting Federation sebagai wakil dari Sport & Competition Committee. PB FAJI membentuk tim kecil untuk persiapan bidding ini terdiri dari: Adi Seno, Toni Dumalang, Joni Kurniawan, Atek, Tinu, Henry Camar dan saya. Akhir tahun 2012, kami dinyatakan memenangkan proses bidding untuk menyelenggarakan WRC R4 2014. Tak lama kemudian, Brazil yang kalah dalam proses bidding ini mengajukan proposal untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan WRC R4 2014 dan meminta Indonesia mengalah untuk mundur 1 tahun ke belakang menjadi penyelenggara WRC R6 2015. Ide ini beralasan karena Brazil memiliki kanal sebagai penyelenggaraan 3 nomor lomba dan R4 dikembangkan untuk dimainkan di sungai-sungai buatan, sementara R6 lebih mengarah pada sungai natural. Akhirnya PB FAJI menerima proposal tersebut dan akhirnya saya sadari bahwa ada banyak ‘hikmah tersembunyi’ di balik mundurnya penyelenggaraan WRC di Indonesia. Tuhan memang telah mengatur semuanya.

 

Bulan Agustus lalu, ketika PB FAJI dan Kemenparekraf mengadakan acara sosialisasi resmi kepada seluruh pemangku kepentingan WRC di Sungai Citarik, Bapak Achyarudin, Direktur Produk & Destinasi Wisata Kemenparekraf, sebagai pemapar meledek saya, “Dia nih perempuan nekat.. mau bawa lebih dari 25 negara untuk datang ke Citarik…”. Walau saya jawab di depan audiens bahwa saya memang nekad tapi penuh perhitungan, namun dalam hati saya terus bertanya apa benar obsesi untuk mengumandangkan Indonesia Raya di arena WRC ini hanya kenekatan semata? Apalagi tahun ini, kita punya PR yang cukup berat, penyelenggaraan Pre WRC yang belum juga dimulai persiapannya.

Pre WRC 2014 dan WRC 2015 telah ditetapkan Panitia Pelaksana nya lewat SK Ketua Umum PB FAJI sejak Maret 2014. Sebagaimana kejuaraan-kejuaraan sebelumnya panitia ini merupakan gabungan dari sipil dimana sebagian besar adalah pengurus PB FAJI dan beberapa volunteer yang sudah menyatakan diri siap membantu kegiatan ini serta dari Marinir diketuai Brigjen Mar Deni Kurniadi selaku Danpasmar 2. Saya sudah hampir putus asa karena kepanitiaan ini belum juga mulai mempersiapkan diri sampai dengan awal Oktober ketika saya harus berangkat ke Brazil selama 3 minggu untuk menjadi jury WRC.

Kegiatan WRC di Brazil juga mengalami banyak kendala, walau tak lebih menantang dari Costarica. Awalnya WRC akan dilaksanakan di bulan Agustus, karena biasanya debit air saat itu telah mencukupi. Walau dilaksanakan di kanal, tapi sumber air dari Sungai Parana juga harus cukup tersedia. Sungai Parana menjadi sumber dari Dam Itaipu, Pembangkit Listrik Tenaga Air terbesar di dunia yang menyalakan listrik di seluruh Negara Paraguay dan 20% listrik di Negara Brazil khususnya di kota-kota besar. Kanal tempat 3 nomor lomba adalah miik Itaipu Dam yang awalnya dibangun untuk tujuan konservasi, sebagai jalan untuk migrasi ikan. Beberapa tahun terkahir kanal ini menjadi salah satu tempat lomba kayak internasional dan juga rafting. Jika kejurnas di Sungai Citarum, dibuka dan ditutupnya pintu dam dapat disesuaikan dengan kebutuhan lomba, hal itu mustahil dilakukan di Itaipu karena terlalu besar taruhannya. Akhirnya WRC diundur 2 bulan, namun air tak juga kunjung datang. Tak ada latihan resmi di kanal, pendeknya jalur Down River Race dan kurangnya perencanaan pengadaan air ini menjadi isu utama di Brazil. Ditambah dengan masalah-masalah kecil lainnya, setiap pagi dan malam BOD IRF dan juri berdiskusi tentang payahnya WRC kali ini. Mendengar diskusi tersebut setiap hari, membuat saya semakin nervous, apalagi Pre WRC yang hanya sebulan lagi belum terlihat bentuknya. Saya lontarkan kegelisahan saya kepada mereka, mungkin tahun depan saya dan FAJI akan jadi trending topic mereka setiap hari, tapi mereka selalu meyakinkan bahwa sejak WRC di Bosnia saya selalu berada dalam inner circle dan mengetahui segala permasalahan yang terjadi, sehingga seharusnya hal-hal buruk tidak terjadi lagi di Indonesia. Permasalahan yang terjadi di Brazil adalah panitia penyelenggara tidak punya orang yang mengerti standar WRC, harapan IRF dimana di dalamnya ada harapan dari seluruh peserta, termasuk segala permasalahan yang terjadi dari WRC ke WRC. Beban ini bertambah berat rasanya saat sebelum pulang Joe menyerahkan bendera IRF untuk saya bawa, “Sekarang giliran Indonesia”, katanya.

 

Pre WRC 2014 akhirnya dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat. Kurang dari sebulan seluruh panitia berupaya dan bekerja keras untuk mampu menunjukkan Indonesia dapat menjadi tuan rumah yang baik. Dan tujuan yang tak kalah penting tentunya membuat tim juara menjadi juara, karena mereka akan mewakili Indonesia dalam WRC 2015. Tim peserta Pre WRC ini memang hanya dari Indonesia dan Malaysia. Namun kami juga kedatangan volunteer dari Australia, Jepang dan New Zealand. Sebagian dari mereka adalah atlit yang datang untuk tujuan survey, namun tak bisa hadir full team karena terbatasnya biaya. IRF juga mengirimkan Pieter Bekkers, wakil dari BOD IRF sebagai Inspector untuk melakukan assessment terhadap penyelenggaraan Pre WRC 2014. Pieter adalah salah satu teman baik sesama judge assessor yang selalu mendukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah. Beliau sendiri sudah berpengalaman menjadi tuan rumah pada WRC R4 2010. Dengan segala keterbatasan yang luar biasa, dan segala kekurangan disana sini, pada akhirnya penyelenggaraan Pre WRC 2014 selesai dengan baik. Dalam laporannya kepada BOD dan S & C Comm Pieter Bekkers menulis konklusi:

 

The inspector was impressed of the dedication, the professionalism and the quality of the Indonesian organization. The location with all facilities and the Citarik River are perfect to host an IRF WRC event.

With the same dedication and enthusiasm, and with the proposed adjustment, Indonesia will certainly manage to organize a WRC 2015 in the way that the IRF would like to see it.

 

Kiranya pernyataan ini menjadi pemicu semangat bagi kita semua, untuk mempersiapkan diri lebih dini dan lebih baik untuk WRC di tahun mendatang. WRC 2015 adalah panggung milik semua pengarung jeram dan pemerhatinya di Indonesia, bukan panggung SAYA, panggung PB FAJI dan PENGDA JABAR serta PENGCAB SUKABUMI, juga bukan panggung MARINIR Saya ingin mengajak semuanya untuk bahu membahu dan menciptakan even yang sukses dan dikenang semua orang dengan baik. Saya ingin membuat semuanya memiliki peran yang penting di panggung ini.

 

Akhir kata saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua yang telah bergandengan tangan dalam penyelenggaraan Pre WRC 2014, Ketua Umum PB FAJI, Bapak Achyar (Kemenpar), Iyon (DPRD dan Pengcab Sukabumi), Bupati dan Dinas Pariwisata Sukabumi, para sponsor BRI, Consina dan C59, seluruh operator wisata arung jeram di Sungai Citarik, seluruh Panitia Pelaksana serta terima kasih atas kontribusi dan perhatian dari para dedengkot arung jeram yang telah datang dari berbagai daerah, Raqai, Iep, Delfi, John Lede, Budi Yakin, Made Brown dan masih banyak lagi yang mohon beribu maaf mungkin alpa untuk disebutkan.

Semoga kita semua meliki semangat yang sama dan positif untuk mengusung Merah Putih di arena WRC 2015!

Amalia Yunita

Ketua Harian PB FAJI

Race Director Pre WRC 2014 & WRC 2015

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org