FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

26 September 2012 07:32 PM

Emergency Respon Procedure

Sumber: Tonny Dumalang

SAFETY POLICY

 

Dikegiatan arung jeram / penanganan bencana/ pengungsi - korban / rescue – siapa saja yang terlibat akan mengambil bagian dalam kegiatan yang mana resiko dikecelakaan bisa jadi lebih besar dari kegiatan sehari hari.

Konsekuensinya, staf lapangan mempunyai tanggung jawab khusus untuk menjamin tindakan pencegahan yang cukup dan berkeinambungan.tidak hanya untuk menghindarkan bahaya tapi juga menyakinkan mereka untuk aman disetiap situasi terkendali. Mengarahkan mereka untuk lebih bisa menghadapi segala resiko dan penanganan lebih tersiapkan.

Bahaya seharusnya tidak menjadi tanggung jawab mereka sendiri, tujuannya adalah menghindarkan bahaya dan resiko secara terorganisir dan terlatih bila hal hal itu terjadi.

 

Catatan :

Keamanan dan Keselamatan adalah hal Perhatian dan Keputusan Tepat Staf.

Sebelum mengambil keputusan dalam setiap tindakan, tanyakan diri anda :

            Apakah saya :   berada tepat di tempat

                                                Di waktu yang tepat

                                                Dengan perlengkapan yang tepat

                                                Dengan orang yang tepat ?

 

I.     Action Plan Procedure :

 

1.    KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB

Kewenangan dan tanggung jawab untuk menangani situasi tersebut, termasuk seluruh komunikasi internal adalah Manager Operasional ? yang dikoordinasikan dengan General Manager dan Direktur. ? Serta bisa juga orang lain yang dipercaya untuk yang lebih spesifik.

 

Bila orang di di bawah ini tidak ditempat, maka orang berikutnya harus segera berada di tempat.

1.      Direktur                      :

2.      General Manager         :

3.      Manager Operasi         :

4.      HRD                           :

5.      Dokter                                    :

 

2.    Tehnis Koordinasi :

jam kerja, staf operasi hendaknya kontak kantor 021 –               saat diluar jam kantor / hari libur - kontak no hp nama nama di atas.

Koordinasi berikutnya adalah :

·         Orang yang dihubungi akan mengontak kembali sesegera mungkin.

·         Dia akan menangani situasi tersebut dan berusaha mengontak Top Management.

 

·         Jika 30 menit tidak ada respon, maka dilakukan koordinasi dengan orang orang yang tertera di atas dimulai dengan Direktur.

 

·         Manager Operasional yang bertugas menangani situasi tersebut harus berkoordinasi dengan asisten operasi produk wisata juga dengan :

·         Humas              -

·         Medis                -

·         Kepala Desa      -

·         Ka.Kecamatan   –

·         Kapolsek           -

 

 

 

II.   Senior administrative procedure :

A.    Tugas Prioritas I - Segera

1.   Pastikan seluruh situasi terkendali (khususnya yang berkaitan dengan lingkungan yang berbahaya, sudah diamankan sebelum yang Person In Charge datang – perhatikan point IV untuk konsultasi medis dan Informasi kebutuhan helikopter dan Prioritas kebutuhan Lapangan ).

 

2.   Beritahukan bagian di bawah ini - - -

·         Direktur                                    :

·         General Manager           :

·         Manager Operasi            :

·         HRD                              :

·         Dokter                          :          

 

3.   Beritahukan orang orang yang dipercaya :

·         Humas                          :

·         Medis                            :

·         Kepala Desa                  :

·         Ka.Kecamatan               :

·         Kapolsek                       :

 

4.   Media Massa - Untuk spesifik tugas lainnya seperti berhubungan dengan Media Massa maka perlu diperhatikan orang yang Mengenal ---------------------- ( organisasinya ).

 

B.    Tugas Prioritas II

1.     Tanyakan segera untuk jaminan kesehatan / asuransi kepada Person  In Charge.

2.     Review Kebutuhan Lapangan ( lihat V )

3.     PRESS RELEASE - Koordinasikan dan siapkan bahan Press Release untuk Media Massa.

 

C.    Tugas Prioritas Ketiga

1.     Perhatikan dan beritahukan keluarga korbanatau korban– kadang mereka sangat memperhatikan berita media/menjaga simpang siurnya berita.

2.    Beritahukan seluruh staf yang bertugas dalam menjalankan sistemnya.

3.    Review agenda perencanaan, pelaksanaan dan lakukan perubahan prioritas bila perlu.

4.    Lakukan briefing dan review untuk Laporan Awal.

5.     Laksanakan Proses Pelaporan

 

D.    Pemberitahuan terhadap Kerabat / Keluarga

Hal ini adalah saat paling penting untuk segera ditindak lanjuti prosedur setelah kecelakaan serius atau kecelakaan fatal , juga saat yang penuh tekanan baik dilihat dan dilakukan.

Manager Operasional ? adalah yang berwenang dan bertanggung jawab untuk memberitahukan, bila tidak ada maka wakilnya. Bila keduanya tidak ada maka Orang Di bawahnya lagi (secara struktural) yang memberitahukan dan berkoordinasi dengan nama nama di atas – lihat Langkah langkah Perencanaan.

 

Setiap kehadiran mereka akan membuat suasana berbeda, maka beberapa saran di bawah ini :

1.      Sensitifitas terhadap perasaan keluarga, pikirkan dahulu sebelum mengatakan. Semua info faktual dan akurat, dan pertimbangkan penyampaian rasa belasungkawa. Ingat, mereka berhak atas semua berita penting tentang kecelakaan, tetapi juga sampaikan hal hal yang sudah dicek dan recek serta pertimbangkan kapan dilakukan pemberitahuan, seperti sedang makan, kerja, tidur dll. Coba lakukan antisipasi bila orang lain yang menerima berita.

 

2.      Jujur adalah bagus, salah berita, salah bicara, tertunda berita akan mengakibatkan kecurigaan.

3.      Pertimbangkan mengundang wakil dari kerabat bersangkutan.

 

4.      Pertimbangkan bila staf yang mengetahui persis kejadian yang memberitahukan dengan izin yang berwenang.

 

5.      Pertimbangkan wakil staf mengunjungi kerabat yang bersangkutan.

 

6.      Atur juga nama nama yang dipercaya untuk menemani wakil staf memberitahukan kerabat, hindarkan banyak orang yang tidak berkepentingan.

 

7.      Sangat penting/kritikal – maka semua wakil staf harus berbicara dalam pemahaman yang sama dan diskusikan dahulu.

 

B.   Mengamankan Situasi Lapangan

       Saat semua nama nama yang dihubungi dapat diberitahukan maka situasi lapangan harus benar benar terkendali. Semua staf yang terlibat aktif dalam phase Kebutuhan Helikopter atau situasi penanganan medis segera. Di bawah ini pedomannya :

1.     Lakukan perencanaan ulang atau penyesuaian berdasarkan informasi terakhir dengan berbagai alternatif dan kemungkinan.

 

2.     Lakukan briefing dan bimbingan terhadap pisik dan emosional yang terlibat serta diharapkan staf kantor untuk segera datang untuk memfasilitasi pelaporan dan pendokumentasi

 

3.     Pastikan semua tindakan resmi dan koordinasikan dengan tripida.

 

4.     Di dalam situasi fatal, tunggu hingga tripida datang dan lakukan pendokumentasian photo sebelum jasadnya dipindahkan.

 

C.   Konsultasi Medis

Bila ada kontak dari lapangan tentang konsultasi medis maka lakukan :

·         Catat informasi penting seperti :

1.     Nomor telp informer

2.     Instruksikan informer tetap dinomor tersebut.

 

·         Kemudian kontak dokter yang tertera didaftar berikut ini, jelaskan situasinya, dan silahkan untuk menghubungi informer pertama :

1.     Dokter

2.     Dokter

 

·         Jika nama nama dokter tersebut tidak dapat dihubungi maka hubungi Gawat Darurat Rumah Sakit atau datangi dan jelaskan dengan detail.Gawat darurat di rumah sakit berikut ini :

1.     Rumah Sakit

2.     Rumah Sakit

 

D.  Helikopter – Pilihan Terakhir

       Karena biaya operasi tinggi dan kesulitan alam untuk mengoperasikan helikopter maka perlu dihindarkan bila masih ada alternatif lain yang lebih memungkinkan.

       Bila kontak datang dari lapangan, perlu didiskusikan dengan cara evakuai yang lain, kendaraan motor, orang, tapi juga jangan ragu ragu kalau perlu jaminan helikopter.

       Standar Prosedurnya adalah bagi Direktur Utama, General Manager, Manager Operasional untuk menyetujui akan kebutuhan helikopter. Bila pada situasi genting dan kontak tidak dapat dilakukan dengan pemegang keputusan untuk helikopter maka staf lapangan bertanggung jawab untuk kebutuhan tersebut.

 

DALAM SEMUA KASUS, PERMINTAAN AWAL UNTUK HELIKOPTER DIBUAT OLEH STAF LAPANGAN, YANG DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI YANG AKURAT, KONDISI LOKASI, DLL. TENTUNYA SEMUA YANG TERKAIT SEPERTI TRIPIDA PERLU DIBERITAHU.

Dalam situasi kebutuhan evakuasi helikopter, hubungi :

·         -----

 

Keuntungannya adalah :

-          Base ---------

-          Take Off ----- menit setelah kontak

-          Dengan Perawat -------

-          Jenis helikopter ------

-          Muatan --------

-          Waktu tempuh --------

 

E.   Permintaan Bantuan Helikopter

 

Persiapkan informasi di bawah ini :

1.    Objektif

  Tipe Operasi ( search, rescue, medical evacuation ….)

  Jumlah korban yang harus dievakuasi

  Kadar Cedera ( disediakan self movement, litter dan / ambulatory)

  Tujuan tempat evakuasi korban

  Spesifik Peralatan

  Buat daftar bobot korban dan perlengkapan yang harus dibawa terbang juga.

 

2.    Lokasi dan Penjelasan Tempat Kecelakaan / Landing Zone

  Koordinat geograpi dan / tanda tanda lainnya yang disepakati.

  Tipe lingkungan alam ( pegunungan, hutan, air/sungai …)

  Ketinggian –   dpl

  Ukuran dan kondisi Landing Zone ( luasnya, tanda tanda signal, kondisi permukaan-bebatuan, tanah, rata, miring )

  Gangguan untuk Landing atau Hovering ( tinggi dari objek, jarak dan arah magnet, transmisi listrik, pepohonan, puncat dll.).

 

3.    Cuaca ditempat kecelakaan / Landing Zone

  Ceiling -  (tinggi / rendahnya awan dari atas tanah – feet ).

  Visibility ( termasuk kalau hujan, asap, kabut).

  Arah Angin ( perlu dipasang petunjuk arah angin ).

  Suhu – perkiraan saat itu.

  Pilot tidak akan terbang bila kurang dari 500’ ceiling, 0,5 mile visibility, angin di atas 50 mph atau dalam banyak petir. Mereka akan tunggu hingga petir mereda dan prlu dicari alternatif lain.

 

4.    Memilih Landing Zone

  Landing Area ditentukan di dua tempat :

·         Lapangan Bola

Koordinat

·         Gedung .................

·         Koordinat

 

5.    Menandai Landing Zone

  TANDA ASAP - Karena kesulitan pendaratan didaerah pegunungan, maka kecepatan, arah angin dan kejelasan area, maka pemasangan Tanda Asap perlu dipasang pada jarak 15 – 20 m.dari pendaratan dan tidak menghalangi pendaratan.

 

  TANDA  H - Dapat juga dengan tanda abjad H yang terbuat dari kain,plastik, cat warna menyolok yang terpasang kuat agar tidak terbawa angin.

 

  TIDAK PAKAI TANDA – umumnya para pilot tidak menyukai tanda tanda tersebut pada siang hari/hari terang,karena bahaya akan mengganggu dan membahayakan rotor pesawat.

 

6.    Keamanan

1.     Dekati dan datangi heli dari arah depan dengan persetujuan pilot.

2.     Jauhi bagian belakang ekor heli dan jangan sekali sekali berada di atas ketinggian heli bila heli berada didaerah miring.

3.     Berdiri jauh dari heli sekitar 30 m.

4.     Gunakan pakaian panjang untuk menjaga dari cuaca dingin, buka topi dan kemasi barang barang dengan baik.

5.     Jangan ada peralatan yang berserakan.

6.     Jangan dirikan tenda, karena rotor akan berputar 150 mph. bisa membuat tenda terbang.

7.     Gunakan kacamata untuk menghindari benda benda yang berteerbangan.

8.     Lindungi pendengaran.

9.     Ikuti semua instruksi dari krew heli.

 

7.    Kriteria Kecelakaan

Yang dimaksud dengan kecelakaan adalah :

Suatu keadaan yang terjadi pada ................. atau staf lapangan atau staf lainnya di lapangan yang dapat mengganggu aktifitas ..................secara keseluruhan, kecelakaan ini dapat berupa sakit, cedera, sampai kepada keadaan yang lebih besar lagi.

 

Daftar di bawah ini bukan menjadi keharusan, tapi gunakan keputusan yang terbaik .

  Tersambar petir

  Stadium 3 bahaya terbakar dimuka, tangan, kaki dan anggota badan yang vital lainnya.

  Patah Tulang

  Keracunan

 

8.    Pasien / Korban

  Kondisi pasien harus distabilkan dahulu sebelum ditempatkan dispinal board dan basket sehingga memudahkan pada penerbangan.

  Memiliki informasi tertulis tentang pasien untuk Flight Nurse.

  Lanjutkan pemeriksaan berkala sebelum mendekati heli, pakaikan alat penutup pendengaran buan hanya karena kebisingan tapi juga menjaga penyebab sakit lainnya/bertambah.

  Lindungi pasien dari keamanan dari benda benda berterbangan dan pakaikan tutup mata/kaca mata.

 

III. Prosedur  Darurat  Di Lapangan

      

       Tanggung jawab utama dan sangat penting bagi staf lapangan  adalah memelihara keselamatan dan keamanan serta keadaan yang baik bagi mereka, termasuk staf lapangan lainnya lainnya.

       Prosedur berikut ini adalah pedoman apabila terjadi kecelakaan pada mereka yang membutuhkan evakuasi. Banyak kecelakaan yang tidak dapat ditolong di lapangan yang membutuhkan evakuasi. Tanggung jawab semua keputusan didasarkan pada respon darurat dan evakuasi oleh Manajer operasional, atau  yang ditunjuk olehnya.

 

A.  PROSEDUR EVAKUASI

1.   Semua usaha-usaha menggunakan fasilitas telepon atau radio untuk menghubungi staf operasi atau eksekutif direktur di kantor . Pos Komando………………………...

 

2.   Tidak ada kompromi bagi keselamatan  mereka yang lain selama ada usaha-usaha evakuasi. Mereka dapat diperbantukan pada evakuasi jika hal itu aman untuk dilakukan. Jika ada yang meragukan keselamatan selama kegiatan program wisata maka kegiatan tsb. dapat dihentikan sementara dan korbanakan menunggu hingga ada instruksi selanjutnya.

 

3.   Tidak satupun mereka boleh melakukan perjalanan atau menunggu untuk pertolongan tanpa ditemani oleh seorang staf lapangan atau ditemani sekurang-kurangnya 3 orang tamu.

 

4.   Hanya satu tujuan evakuasi adalah ke Rumah Sakit, yaitu :

5.   ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Semua usaha-usaha yang dilakukan harus menghubungi  pimpinan Posko Operasi........................................

 

6.   Staf lapangan  bisa mendapatkan bantuan dari para pekerja, kendaraan-kendaran dan pengemudi yang tidak mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan, tetapi semua tanggung jawab untuk keputusan yang aman untuk evakuasi berada di manajer operasional.

 

7.   Tandu akan disertakan oleh staf rescue disemua kegiatan program wisata, awal, akhir, pengiriman ulang dan penjemputan ditengah kegiatan.

 

8.   Staf tidak boleh menceritakan secara detil tentang keadaan darurat sebenarnya atau mengenai evakuasi kepada siapapun yang tidak ada kepentingannya , diwaktu kapan saja.

 

9.   Emergency Kit  standar sudah siap dalam 1 paket dan bisa diminta berdasarkan kebutuhan atas keputusan manajer operasional

 

10. Pikirkan jalan keluar yang terbaik dan efesien untuk komunikasi darurat di lapangan dan cara cara evakuasi yang aman dan efektif.

 

B.   Medical Kit

1.     Staf lapangan harus ingat, bahwa mereka harus menyiapkan berbagai persyaratan yang memadai untuk program wisata, kemampuan dan selalu berlatih untuk  dapat mengantisipasi gangguan kesehatan. Mengurangi pemberian obat yang tidak beralasan dan segala usaha pengobatan harus dilaporkan kepada atasannya. Kotak P3K dalam keadaan sudah diperiksa ulang di gudang, termasuk dalam kotak P3K adalah daftar obat dan catatan penggunaan obat.

 

2.     Harus ada serah terima kotak P3K dari gudang kepada tim medis, semua P3K harus dalam keadaan tersegel. Tim medis harus mendatangkan kotak P3K untuk dan dari staf lapangan, jika ada obat-obatan dipakai, tim medis harus menulis dalam kartu / daftar obat. Pada saat pengembalian kotak P3K, atasan harus memeriksa isi kotak untuk meyakinkan bahwa pemakaian obat sesuai dengan yang tercantum kartu / daftar obat. Hal ini sangat penting, semua kotak P3K akan disimpan  selama tidak ada program wisata.

 

3.     Setelah mengumpulkan kotak P3K  dan daftar / kartu obat  akan memudahkan atasan mengisi form, kesimpulan pemakaian obat. Jika kotak P3K terpakai harus segera dikembalikan ke gudang untuk diperiksa dan di isi lagi .

 

4.     Selama program tsb, semua kotak obat dalam keadaan terjaga.

5.     Setelah program wisata. kotak obat (terpakai atau tidak) harus dikembalikan ke gudang

6.     Prosedur penting bagi  kotak P3K  adalah isi, fungsi dan penggunaan harus terjaga baik.

 

C.   Tata Cara Penggunaan Kotak P3K

1.     Gunakan sarung tangan ketika menangani pendarahan tersedia di setiap kotak P3K.

 

2.     Cucilah tangan dengan sabun dan air setelah melepaskan sarung tangan.

 

3.     Gunakan masker khusus  untuk resusitasi dari mulut ke mulut.

 

4.     Staf lapangan dan  korbantidak boleh saling memakai botol air dan alat makan, hal ini untuk menjaga kebersihan, agar tidak tertular penyakit menular yang tidak diketahui.

 

5.     Gunakan Epi pins dari kotak yang baru dan dililit oleh plester, apabila dipakai harus ditulis di atas plester. Tempatnya jangan dimasukan lagi ke dalam kotaknya dan kembalikan ke dalam gudang, bersama-sama kotak P3K, informasikan  pada staff logistik bahwa Epi pins sudah dipakai.

 

6.     10 tetes pemutih (Bayclean)   pencuci pakaian untuk tangan yang kena darah , dan pemutih chlorine yang selalu tersedia di kotak  P3K untuk mencuci sarung tangan.

 

7.     Obat-obatan,  staf lapangan harus mengetahui obat-obatan yang dibawa korbandalam program wisata dan mengawasi pemakaian obat-obatan tersebut agar cocok dan tepat. Di beberapa kasus, khususnya remaja, staf lapangan harus membawakan obat-obatnya di lapangan untuk keamanan dan memastikan bahwa korbanmenggunakan obat yang benar-benar dibutuhkan.

 

D.  Pedoman Respon Darurat

1.   Tenang          

Setiap orang terdorong untuk cepat menangani saat terjadi kecelakaan. Ini satu kesalahan dan dapat mengakibatkan beberapa hasil yang buruk. Kesalahan yang dibuat harus dapat dicegah, bila tidak hal ini akan menghambat, atau akan menyebabkan terjadinya kecelakaan yang lain dan ada yang terluka. Hampir dalam semua kecelakaan, kita mempunyai beberapa detik untuk menarik nafas, melihat sekeliling dan berpikir dua kali untuk beraksi.

 

2.   Jadilah pemimpin       

Hanya satu orang yang harus mengontrol respon darurat. Didalam program wisata, orang itu adalah pimpinan program wisata. Memimpin kontrol berarti mempunyai tanggung jawab tertinggi bagi keselamatan setiap orang yang terlibat, dan harus mengikuti beberapa petunjuk berikut ini:

·         Cari tahu dan dengar saran-saran orang lain.

·         Berpikir jernih, bijaksana dan berpikir penuh tentang keputusan.

·         Sampaikan dan  tunjukan  rasa  kewenangan,  kepercayaan  diri dan ketenangan kepada korban dan pada para penolong lainnya.

·         Biarkan tim anda bekerja, jangan membuat kesalahan karena sibuk dengan hal-hal kecil. Mundur dan lihat dan pikirkan semuanya secara obyektif. Tanya berulang-ulang pada diri sendiri: Amankah ini?

·         Pikirkan apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya, dan apa yang akan dibutuhkan untuk jam berikut dan seterusnya.

·         Koordinasi dan komunikasikan hasil-hasil yang dicapai dengan “dunia luar”.

 

Bila korban harus dievakuasi :

  hal pertama yang harus dilakukan adalah stabilkan korban, kemudian transportasikan. Tujuan pertama setiap orang adalah menjaga situasi tidak menjadi buruk. Segera setelah situasi stabil tanya diri sendiri jika ada sumber-sumber yang efektif untuk evakuasi yang tepat. Jika tidak, amankan posisi anda dan kirim orang untuk minta pertolongan.

 

  Pertolongan atau perhatian terhadap peralatan penolong dan makanan harus diperhatikan sebaik seperti pertolongan atau perhatian terhadap orang-orangnya. Kita tidak akan tahu berapa lama kita akan tertahan dan peralatan apa yang dibutuhkan.

 

  Jangan lupa satupun.

 

3.   Jangan bahayakan kelompok penolong.         

       Setiap orang ingin menjadi pahlawan, tapi bukan profesional bila di dalam penanganannya ada yang terluka. Kecelakaan pada penolong kerap diakibatkan oleh ketergesaan.  Perhatikan pedoman nomor 1.

           

            Setiap orang mempunyai ide untuk melakukan pertolongan yang efektif. Bila kita tidak hati-hati, setiap orang akan mulai melakukan keputusan perencanaannya tanpa melibatkan anda atau dukungan dari kelompok. Hati-hatilah dengan penilaian terhadap kemampuan individu atau kelompok, cukup sudah dengan satu kecelakaan. Bayangkan bagaimana rumitnya pertolongan yang akan datang bila sedetik saja terjadi kecelakaan.

 

Web Supported By: