FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

23 November 2007 06:01 AM

OLEH-OLEH DARI WRC KOREA 2007 (3rd part)

Sumber: PB FAJI : Amalia Yunita (yuni@arusliar.co.id)

OLEH-OLEH DARI WRC KOREA 2007 (3rd part)

 

Peserta  

Peserta WRC 2007 sebanyak 28 negara, 28 untuk Men Team dan 13 untuk Women. Setiap negara anggota IRF hanya boleh mengirimkan 1 tim yang telah diseleksi sebelumnya.   

Waktu penyelenggaraan  

Kegiatan WRC berlangsung selama 7 hari. Sebuah rentang waktu yang cukup panjang jika dibandingkan dengan kejuaraan yang digelar di Indonesia dengan format nomor lomba dan peserta yang sama. Ingat tahun 2001, kita bahkan pernah selenggarakan Kejurnas dengan 82 tim hanya dalam waktu 4 hari.

Saat itu saya merasa seperi membangun Candi Sewu selama semalam!  Tapi tentunya waktu penyelenggaraan berkaitan dengan dana yang tersedia. 3 hari pertama setelah registrasi diisi dengan kegiatan latihan bersama. Momen ini yang jarang kita gunakan mengingat kondisi dana tadi.   

U p a c a r a  

Upacara pembukaan berlangsung meriah di stadion di kota Inje. Setiap kontingen menggunakan seragam kebanggaannya berparade melewati deretan podium penonton. Setelah serangkaian tarian daerah dan pidato pembukaan, penonton dan peserta disuguhi atraksi Tae Kwon Do yang menjadi kebanggaan Korea.

Sebagai penutup atraksi kembang api yang cukup indah menjadi hiburan tersendiri juga bagi masyarakat kota Inje yang datang untuk menyaksikan acara ini.  Tim Indonesia tampil beda dengan seragam kemeja merah putih dengan ikat kepala batik ala Jawa Barat dan membawa alat musik calung. 

Selanjutnya setiap hari digelar pemberian hadiah untuk pemenang hari tersebut. Dilakukan pengibaran bendera dan lagu kebangsaan negara pemenang dikumandangkan dalam upacara yang non formal.   

Tim Indonesia  Persiapan  

Indonesia mulai mencanangkan ikut WRC 2007 saat pengurus PB bertemu Ketua Umum, Mayjen TNI (Mar) Safzen Noerdin, S.IP lalu. Ketua Umum saat itu mengusulkan adanya seleksi nasional yang akhirnya digelar sebagai event Best of the Best. Pemda Banjarnegara pun ikut mendukung kegiatan yang diselenggarakan di Sungai Serayu, 19-22 April 2007.

Hasil dari seleksi 10 tim terbaik, keluar 3 tim yaitu Arus Liar Eiger, Songa dan Kapinis.  Ke-3 tim tersebut digodog menjadi 1 tim dan diseleksi lewat beberapa tahapan latihan. Sebagai pembukaan, latihan fisik dan mental digelar selama 5 hari di Bumi Marinir Cilandak, dipimpin oleh Mayor Mar A Fajar dan Mayor Mar Pangestu. Latihan ini selain merupakan bagian dari seleksi fisik dan mental juga memiliki tujuan utama pembentukan tim, karenanya disebut: Pekan Kebersamaan.

Selain dilakukan uji kekuatan fisik melalui test standard, tes kesehatan juga dilakukan di RS Marinir Cilandak. Latihan ini kemudian diikuti dengan latihan teknik di Sungai Citarik dan Cicatih, Sukabumi. Selama latihan tim didampingi oleh tim psikolog di bawah coordinator Ami Kadarharutami, S.Psi. Selain memberikan bimbingan mental, tim psikolog juga melakukan assessment terhadap atlit yang akan diberangkatkan. Dari Training Centre (TC) I ini, keluar nama: Hendi Rohendi, Andi Suherli, Hedin Unang, dan Iyus (Arus Liar Eiger), Herman Debleng, Aep, Dadang (Kapinis) dan Haris (Songa) untuk ikut dalam TC tahap II.

TC tahap II ini diadakan di Sungai Asahan, Sumatra Utara dengan asumsi bahwa Sungai Naerinchon mirip karakteristiknya dengan sungai ini.   Saat TC II, tim kembali dibantu oleh Pengda Sumut yang juga menyiapkan tim sparing dari Sumut. Tim berhasil pecahkan rekor di jalur Sprint dengan catatan waktu 13, 01 detik lebih cepat dari rekor yang dipegang oleh Tim Arus Liar Eiger 3 tahun yang lalu.

Dirasa belum cukup, para pelatih yang terdiri dari Lody Korua, John Lede, Toni Dumalang, Wawan Purwana dan Firdaus, S.Or memutuskan untuk menambah latihan di Sungai Citarum beberapa hari menjelang keberangkatan.   

Posisi Tim Indonesia  

Sungai Naerinchon dalam keadaan sangat surut ketika kami datang. Waktu kegiatan ini sebenarnya sudah dipilih dengan matang karena seharusnya musim hujan sudah datang di akhir Juni. Pada waktu yang sama tahun lalu di sungai ini juga terjadi banjir yang sangat besar hingga menghancurkan banyak tempat.

Rupanya tahun ini keberuntungan tidak berada di pihak panitia, tapi bagi tim Indonesia, posisi air yang surut ini ‘sedikit’ memberi keuntungan. Dengan postur tubuh yang kecil, perahu menjadi lebih ringan serta gaya dayung berdiri membuat Tim Indonesia memiliki catatan waktu paling baik diantara tim-tim yang berlatih saat itu.

Sejak itu tim Indonesia mulai diperhitungkan oleh tim-tim lain. Sayangnya saat lomba, jalur Sprint sedikit berubah dan terutama posisi start yang kurang menguntungkan membuat tim Indonesia hanya bisa tempati posisi ke 10.  Di lomba Slalom Tim Indonesia hanya bisa tempati peringkat 13. Agaknya kita harus memperbaiki teknik slalom terutama cara bernegosiasi dengan gate yang masih agak tertinggal.  

Pada lomba Down River Race, tim Indonesia tempati urutan ke 12 dengan catatan waktu 0:43.04.60. Tim kita berupaya kalahkan Australia namun terpaut angka 0:42.52.10, tapi kita berhasil tinggalkan  Bosnia dengan catatan waktu 0:43.54.56 di belakang.  

Di akhir lomba kita tempati urutan ke 12, dan nomor 2 di Asia setelah Jepang bertengger sebagai Juara II. Negara Asia lainnya seperti India yang sudah punya sederet pengalaman dalam kegiatan WRC harus puas bertengger di ranking 19, Korea tuan rumah di ranking 22 dan Phillipine di ranking 26.  

Tim yang dipimpin Letkol Mar Suherlan ini punya 3 target yaitu masuk dalam 10 besar, mempelajari penyelenggaraan event kompetisi arung jeram internasional dan memperkenalkan Indonesia. Walaupun target pertama belum tercapai namun kedua target lainnya telah tercapai.

Tim Indonesia menjadi sorotan mass media dari berbagai Negara yang datang bersama tim, juga termasuk ESPN pernah meletakkan kameranya pada perahu Tim Indonesia karena memiliki keunikan cara mendayung. ‘Dayung berdiri’ yang sebenarnya diciptakan para atlit Citarik ini dipublikasikan sebagai cara mendayung salah satu suku di Indonesia yaitu ‘Suku Asmat’.    

Masyarakat Korea  

Walaupun banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi banyak orang Korea yang membantu kami dimanapun kami butuhkan. Mereka sangat suka menolong. Saat kami tak bisa gunakan telepon, mereka membantu menghubungi kami dengan panitia lewat hand phone nya. Saat upacara pembukaan kami bagikan bendera merah putih kecil kepada masyarakat Inje yang akhirnya menjadi supporter kami.  

Panitia juga mengatur pertemuan setiap tim untuk dikunjungi para pejabat Intje. Tidak semua tim menerima tawaran ini karena mereka punya kesibukan untuk evaluasi dan istirahat di saat malam hari. Tim kami dikunjungi oleh Mr Won Kepala District Incheon dan selanjutnya beliau bersama rombongannya menjadi supporter Tim Indonesia di lapangan. Sungguh mengharukan melihat mereka melambai-lambaikan merah putih di sepanjang jalan dengan begitu semangatnya.   

Usai pertandingan, beliau memberi hadiah city tour 1 hari dengan bus yang disewanya plus seorang penterjemah yang cantik. Kami ditraktir makan siang di resto ternama di kota Inje. Saat kami makan siang, tiba-tiba dari tebing di samping kaca restaurant keluar air terjun buatan dari ketinggian lebih dari 100 m. Ini adalah bagian dari ‘kejutan-kejutan kecil’ yang beliau berikan untuk kami, dan membuat kami tak kan dapat melupakan segala keramahan dan kebaikan orang-orang Korea.   

Amalia Yunita

Panitia Tim Indonesia WRC 2007

 

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org