FAJI is Member of
International Rafting Federation
Since 2000

Articles

All Articles Index | Teknik | Wisata | Organisasi | Warnasari | Feedback

23 November 2007 08:29 PM

OLEH-OLEH dari WRC KOREA 2007 (2nd part)

Sumber: PB FAJI : Amalia Yunita (yuni@arusliar.co.id)

OLEH-OLEH dari WRC KOREA 2007 (part 2)

Fasilitas Peserta: Perahu karet  

Setiap tim diberi pinjaman 1 perahu karet yang digunakan oleh tim tersebut dari mulai latihan sampai lomba selesai. Perahu yang digunakan buatan pabrik Korea Woosung. Pabrik ini bukan hanya membuat perahu untuk brandnya sendiri yaitu Zebec, tapi juga untuk merk-merk ternama seperti NRS dan Star.

Spesifikasi perahu yang digunakan panjang 410, lebar 190 dengan diameter tube yang lumayan besar 50cm. Perahu ini terlihat dibuat untuk kepentingan komersil dengan adanya foot trap di lantainya.  Setiap perahu diberi bendera masing-masing negara di bagian haluan dan buritannya.    

Fasilitas Peserta: Konsumsi  

Setiap peserta disediakan makan bersama sesuai jadwal makan di kantin Mirinae Camp yang dapat menampung kurang lebih 300 orang. Menu makan disajikan dalam bentuk buffet tersebut  cukup banyak variasi nya dan kira-kira dapat memenuhi kebutuhan berbagai selera. Begitu juga dari segi jumlah dan penyajiannya, jika di Indonesia mungkin setingkat hotel bintang 4.

Diluar peserta juga dapat membeli kupon dengan harga W 15.000 atau Rp. 150.000,- sekali makan. Tapi tetap saja ada peserta yang protes tentang menu saat Technical Meeting. Walaupun cukup mewah, buat kami yang mayoritas muslim agak mubazir juga karena sebagian besar dagingnya B2!  Urusan perut di Korea memang agak merepotkan. Hampir seluruh tempat makan memasang tarip per orang untuk makan nasi dengan berbagai pilihan lauknya yang diletakkan dalam piring-piring kecil. Yang termurah W 5.000 atau Rp. 50.000,-.     

Fasilitas Peserta: Kendaraan   

Jarak dari penginapan ke lokasi lomba Sprint & Slalom kurang lebih 40 km, atau 1 jam perjalanan. Panitia menyediakan 1 van beserta driver nya untuk setiap tim. Seperti villa tempat kami tinggal, van ini juga diberi bendera masing-masing negara.   

Fasilitas Peserta: Telepon  

Karena lokasi kegiatan tersebar, kami diberi pinjaman HP dengan membayar deposit W 50.000, deposit ini juga sebagai pengganti pulsa yang terpakai yang lumayan mahal taripnya. Malangnya semua petunjuk di mobile phone menggunakan huruf Korea sehingga kami tak bisa gunakan untuk SMS. Telepon ini juga tidak bisa digunakan ke Indonesia, sehingga seluruh anggota tim praktis tak bisa berhubungan dengan Indonesia selama 2 minggu.    

Fasilitas Peserta: Penterjemah/Liason Officer  

Agak sulit menemukan penduduk Korea yang mahir dan mengerti Bahasa Inggris terutama di Inje. Memang daerah tersebut termasuk obyek wisata, tapi mungkin kebanyakan wisatawan lokal yang datang kesana. Karena itu panitia menyiapkan penterjemah/LO bagi setiap tim. LO ini juga yang mengarahkan pergerakan kami setiap harinya dan menjadi penghubung kami dengan panitia. Mereka adalah para volunteer yang masih kuliah di Seoul.   

Fasilitas Peserta: Hiburan  

Setelah makan malam, panitia menyajikan hiburan untuk peserta. Di  aula yang dapat menampung 1000 orang diputar film-film Korea dan juga film hasil dokumentasi pertandingan hari tersebut.  Pada malam terakhir panitia membuat pesta meriah. Para peserta larut dalam euphoria party yang hingar bingar ini.   

Tentang Perlombaan  

Lomba dipimpin oleh Robert Kazik sebagai Race Director. Seluruh panitia agaknya disibukkan dengan kondisi air yang surut diluar dugaan. Tidak mungkin memundurkan waktu pelaksanaan sampai datangnya moonsoon yang seharusnya sudah dimulai karena tim dari berbagai Negara sudah datang ke lokasi jauh hari sebelumnya.  

Hal sebaliknya pernah kita alami dalam kejuaraan Best of the Best April lalu. Saat itu malahan debit air yang terus tinggi setelah jam 14 membuat kita sulit tentukan pilihan lokasi.  

Sampai saat Technical Meeting baru diumumkan lokasi mana yang akan digunakan untuk nomor yang akan dilombakan esok harinya. Untuk nomor Down River Race (DRR) bahkan kami ketahui pada hari yang bersangkutan. Untuk force majeur seperti ini, Tim Korea yang seharusnya diuntungkan, karena mereka lebih kenal medan di bentang manapun disana. Namun ada kesempatan satu kali turun sebelum lomba DRR berlangsung.

Saat latihan kami pun langsung ’menempel’ Tim Korea untuk mempermudah pengenalan jalur. Rupanya Tim Jepang yang sudah datang berbulan-bulan sebelumnya juga sudah mendokumentasikan setiap jeram secara rinci dan menganalisanya di computer. Dengan persiapan seperti itu, mereka memang layak menjadi juara!   

Juri & Sistem Penjurian  

Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Judges Workshop selama 2 hari sebelum pertandingan. Sebagai perempuan, agak sedih juga melihat kaum saya yang tidak berminat menjadi juri hingga saya harus jadi perempuan sendiri. Ada beberapa tingkatan Juri di IRF, dimulai dari Assistant Judge, General Judge, Chief Judge dan Assessor. Setelah ujian, saya boleh ikut menjadi Juri dan saat ini saya sudah masuk sebagai salah satu General Judge di list juri nya IRF (www.intraftfed.com/RaceJudges.pdf).

Prosedur formal menjadi Juri memang harus tetap diikuti. Saya telah beberapa kali menjadi Race Director, membuat kursus juri dan telah paham sepenuhnya aturan lomba IRF, namun tetap harus tetap mulai dari ’bawah’. Harapan saya di waktu yang akan datang semakin banyak orang Indonesia yang terdaftar disana, seperti Joni Kurniawan yang sudah dua kali jadi Chief Judges di Kejurnas harus bisa jadi orang-orang berikutnya yang masuk dalam list tersebut.  

Sistem penjurian WRC tak berbeda dengan even kejuaraan terutama tingkat nasional. Untuk perhitungan mereka gunakan file excell yang kurang lebih sama dengan yang kita gunakan. Tim Scoring yang dipimpin Bruce Waters (Assessor), menggunakan 2 computer dan 1 printer di bawah tenda di tempat finish.

Tim nya harus ditambah penterjemah karena operator computer Korea tersebut tidak paham Bahasa Inggris.  Hal yang istimewa adalah pengunaan alat ukur waktu elektronik. Dengan adanya alat ini, tidak perlu ada deretan pemegang stopwatch di tempat finish. Angka waktu sudah keluar dengan sendirinya di computer. Memang lebih akurat, tapi tetap harus ada stopwatch sebagai back up.

Teknologi tidak selalu berjalan mulus.  Di lomba Slalom, setiap gate diawasi oleh 2 juri (saat itu saya bertugas sebagai Gate Judges) dan kami mencatat gawang depan dan belakang kami sebagai back up. Penalti ditunjukkan oleh gate judges dengan papan angka. Tak ada kesulitan yang cukup berarti kecuali menilai penalti dari tim-tim yang lewat dengan teknik yang ’menakjubkan’.  

Pengaturan dan penempatan juri saya lihat kurang terencana. Pagi hari sesaat sebelum kegiatan kami dikumpulkan, langsung bagi tugas dan mencari lokasi sendiri. Saat lomba DRR bahkan saya dikirim ke lokasi saat 2 tim sudah melewati jalur tersebut.

Lomba DRR kategori Women juga terpaksa ditunda karena beberapa time keeper dari Korea masih makan siang. Hal seperti ini terjadi juga karena hambatan bahasa.  Hasil lomba ditempel di Headquaters setelah perhitungan selesai seperti yang kita lakukan pada kejuaraan tingkat nasional. Sayang nya hasil score keseluruhan baru keluarhampir satu bulan setelah lomba usai.

Beberapa protes datang dari peserta terutama pada nomor Sprint. Mereka menganggap jalur start kurang fair sehingga peserta yang start dari sebelah kanan selalu kalah. Akhirnya di tengah perjalanan mereka menambah media apung untuk mengurangi perbedaan. Keputusan dan perubahan yang diambil di tengah berlangsungnya lomba ini membuat munculnya ketidak puasan diantara beberapa tim.  

Beberapa tim juga terkena penalti start. Namun tim kelas dunia memang berjiwa sportif tinggi sehingga bisa menerimanya. Bahkan tim unggulan seperti Slovenia juga tersungkur ke ranking 8 pada nomor sprint karena hal ini.

(bersambung : Peserta)

klik saja : http://faji.org/?go=artikel&id=14&hal=1   (3rd part)

Bersambung :

 

Follow twitter : @PB_FAJI | Facebook Group : Federasi Arung Jeram Indonesia | Email : pb_faji@faji.org